HARKITNAS : Harus kita bangkit

Yuk mari kita memaknai kebangkitan nasional

Hari ini, 20 Mei diperingati sebagai hari kebangkitan nasional.

Orang orang yang pernah duduk dibangku sekolah musti mengenal apa itu hari kebangkitan nasional. Dan latar belakang apa yang membuat tanggal 20 Mei disebut sebagai Harkitnas.

Kita terlebih dahulu akan membahas mengenai sejarah dari Harkitnas, dan kemudian baru menginjak refleksi kita sebagai golongan muda setelah merayakan Harkitnas.

Hari Kebangkitan Nasional baru dirayakan pada tanggal 20 Mei 1948. Hal ini disampaikan oleh Presiden Soekarno. Pada saat itu istilahnya adalah hari Kebangunan Nasional. Tahun 1948 merupakan tahun genting bagi Indonesia, pada masa masa ini Indonesia harus mempertahankan kemerdekaan (1945-1949) dari upaya Belanda untuk menjajah kembali Indonesia. Juga pada periode ini terjadi perbedaan pendapat antara beberapa tokoh sehingga memunculkan beberapa pemberontakan.

Kenapa dipilih tanggal 20 Mei???

Ini berkaitan dengan adanya peristiwa pada tanggal 20 Mei 1908, yakni berdirinya sebuah organisasi pergerakan nasional Indonesia yaitu Boedi Oetomo (Budi Utomo). Yang selama ini kita pelajari di sekolah merupakan organisasi modern pertama di Indonesia.

Berdirinya Budi Utomo ini dianggap sebagai titik awal kebangkitan bangsa Indonesia untuk menggalang kesatuan dan persatuan. Pada titik inilah muncul kesadaran nasional.

Kita tengok sebentar buku sejarah yang dimiliki.

Pada hari rabu tanggal 20 Mei 1908, para mahasiswa sekolah kedokteran, STOVIA berkumpul. Budi Utomo didirikan oleh Soetomo dan kawan kawannya. Soetomo adalah salah satu remaja berusia 19 tahun yang terinspirasi dari perjuangan dr Wahidin Sudirohusodo. Tolong bedakan antara dr Soetomo dengan Bung Tomo lho ya. Dr Soetomo adalah pendiri dari organisasi Budi Utomo yang lahir pada tanggal 30 Juli 1888 dan meninggal 30 Mei 1938. Jadi Soetomo meninggal pada saat Indonesia belum merdeka. Sedangkan Bung Tomo adalah salah satu pejuang Indonesia yang terlibat dalam Pertempuran Surabaya, yang kini dijadikan sebagai hari Pahlawan.

Budi Utomo lebih berfokus pada bidang pendidikan dan kebudayaan.

Polemik kemudian muncul mengenai penetapan Budi Utomo sebagai tonggak lahirnya kesadaran nasional atau kebangkitan nasional.

Gugatan tentang pemilihan tanggal 20 Mei, menyeruak dari beberapa pihak. Salah satunya adalah dasar dimana sebenarnya Budi Utomo tidaklah bersifat nasional Indonesia, melainkan hanya organisasi berdasarkan etnis yaitu Jawa dan Madura.

Beberapa pihak mengajukan Sarekat Islam (SI) lah yang lebih pantas dibandingkan Budi Utomo. Hal ini dikarenakan cangkupan SI lebih luas daripada Budi Utomo. SI bersifat radikal terhadap pemerintah colonial Hindia-Belanda, tidak seperti Budi Utomo yang cenderung kooperatif.

Terus kalau begitu nggak usah memperingati 20 Mei tapi 16 Okober saja???

16 Oktober merupakan tanggal berdirinya organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian berubah menjadi SI.

Tapi sudahlah. Perdebatan ini tidak akan menemukan titik temunya.

Lebih baik kita focus pada esensinya, cara kita memaknai “kebangkitan”

Perlukah kita bangkit?????

Sangat perlu.

Bangkit dari keterpurukan seusai pemilu yang sampai saat ini masih memanas. Proses pencoblosan dan sekarang menuju proses rekapitulasi dan kemudian akan diumumkan hasilnya oleh KPU pada tanggal 22 Mei 2019. Pemilu 2019 lebih panas daripada tahun tahun sebelumnya, diwarnai penuh trik dan intrik dari pihak yang berlawanan. Ada pihak yang menyatakan bahwa Pemilu 2019 paling buruk dibandingkan dengan pemilu pemilu sebelumnya. Ada pihak yang menuduh bahwa terjadi kecurangan terstruktur, sistematis dan massif yang merugikan salah satu pihak peserta Pilpres 2019. Media televisi dan media sosial lainya setiap hari membahas hal hal yang mencemaskan tentang kelanjutan dari drama Pemilu 2019.

Apakah benar akan terjadi huru hara lagi???

Seharusnya jangan.

Pemilu ini hanyalah siklus 5 tahunan. Seharusnya setelah prosesnya selesai, ya sudah, selesai.

Kalau ada pihak pihak yang merasa dicurangi, seharusnya menempuh jalur konstitusional.

Kalau meraka sudah tidak percaya Lembaga Survei, KPU, Bawaslu, MK dll, terus hanya percaya pada kelompoknya sendiri, ya lebih baik ke Antartika saja.

Heuheuheu

Tantangan semakin berat buat generasi saat ini.

Kita dibuat bingung dengan pemberitaan yang ada selama ini. Kita sangat sulit membedakan mana  yang hoax dan mana yang benar benar fakta. Soalnya keduanya disampaikan sama sama menyakinkan, sehingga kita mengalami kebingungan. Ada beberapa pihak yang suka sekali mengshare berita berita yang dia sukai tanpa mencari terlebih dahalu mengenai kebenaran akan berita tersebut. Setidaknya kita harus tetap menjaga diri dalam situasi yang agak memanas ini.

Banyak sekali kebangkitan yang harus kita lakukan.

Misalnya

bangkit dari kemiskinan

bangkit dari kemalasan

bangkit dari kebodohan

bangkit dari kegagalan

bangkit dari intoleransi

Bagi yang masih jomblo dan sudah menua, yuk segera bangkit. Sebentar lagi lebaran lho ya.

Dan juga bangkit bangkit lainnya.

Saatnya kita bekerja bersama membangun negeri ini untuk menjadikan Indonesia menjadi negara yang maju. Negara yang menjamin hak hak warga negaranya. Negara yang benar benar mengamalkan konsep Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan, bukan hanya kata kata belaka.

Selamat hari kebangkitan nasional

Jayalah Indonesia

Oh iya, juga harus bangkit pendukung dari Liverpool, jangan terus terusan meratapi kegagalan menjuarai Liga Inggris musim 2018-2019, masih ada final Liga Champions melawan Tottenham tanggal 2 Juni 2019 lho ya.

Semoga bangkit

No Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *