Kebudayaan Mahenjodaro – Harappa dan Penyebab Runtuhnya

mahenjodaro dan harappaKebudayaan Indus (Sindhu) berkembang antara tahun 3000 SM – 1000 SM, wujudnya berupa kota kuno Mohenjo Daro dan Harappa. Kebudayaan Indus ini didukung oleh bangsa Dravida yang berbadan pendek, berhidung pesek, berkulit hitam, berambut keriting. Kebudayaan  Indus ini merupakan salah satu kebudayaan tertua di dunia. Dari berbagai bukti peninggalan yang ada, kebudayaan yang dihasilkan olhe bangsa Dravida ini sudah tergolong maju.

Penggalian dilakukan sejak tahun 1925 di bekas kota Mahenjo-daro. Dari penggalian tersebut diketemukan antara lain:

  1. Meterai-meterai berhuruf, diduga untuk sarana menghindarkan bahaya.
  2. Bangunan bekas rumah yang sudah memiliki pintu, ukuran batu bata yang sama, dan ditemukan pendopo. Peneliti menemukan kolam renang yang berukuran besar, dimungkinkan sebagai kolam renang yang disucikan untuk dewa-dewi. Ditemukan pula bangunan bekas perairan yang sudah tertata rapi, sistem drainase kota. Mereka sudah menggunakan alat-alat dari batu dan tembaga. Hal ini memperkuat bahwa warga masyarakat sudah mengenal dan menggunakan api.
  3. Perhiasan barang mewah menunjukkan keindahan berupa kalung, gelang, anting-anting yang terbuat dari emas dan perak. Alat-alat rumah tangga dan permainan anak-anak sudah dihiasi dengan seni gambar dan seni ukir yang indah.
  4. Mereka sudah mengenal binatang peliharaan, seperti: gajah, unta, kerbau dan anjing.

Dari penggalian di Harappa (daerah Punjab, sekitar 600 km utara kota Mohenjodaro) ditemukan, antara lain:

  1. Arca-arca yang telah memiliki nilai seni berkualias tinggi.
  2. Ukiran-ukiran kecil terbuat dari terracotta dengan berbagai bentuk, misalnya bentuk wanita telanjang dengan dada terbuka.
  3. Penghuni kota Harappa telah mengenal memasak, terbukti adanya peninggalan alat dapur terbuat dari tanah liat, periuk-periuk dan pembakaran batu bata.
  4. Arca-arca yang melukiskan manusia, lembu menyerang harimau, lembu bertanduk satu dan binatang angan-angan yang disucikan. Arca-arca ini menunjukkan tingginya teknologi peradaban masyarakat Harappa.

Dari hasil penemuan di kota-kota tadi dapat ditarik kesimpulan, antara lain:

  1. Bangunan perkotaan sudah tertata dengan rapi. Ciri kota adalah jalan lurus, rumah menghadap ke jalan, dan kota bersih.
  2. Bangsa Dravida sudah hidup menetap mengikuti pemerintahan aturan (gramma), bercorak kesukuan, dan mata pencaharian mereka dengan bertani.
  3. Sudah mengenal kepercayaan agama keibuan.
  4. Peradaan bangsa Dravida disebut pula peradaban pra-Hindu.
  5. Tata kota, sanitasi, serta kebersihan dan kesehatan dari perencanaan kota dapat dibuktikan dengan adanya: bangunan rumah dibuat tinggi berdasarkan petunjuk kesehatan, bangunan rumah dibuat seragam dari batu bata, bangunan tidak ada yang menjorok ke depan, dan saluran air dibangun sesuai dengan syarat kesehatan

Tentang runtuhnya kebudayaan Lembah sungai Indus dapat diajukan beberapa teori, antara lain:

  1. Di daerah Punjab diketemukan air berkadar garam cukup tinggi, diduga sebagai penyebab runtuhnya bangunan permukiman.
  2. Ahli geografi N. Daldjoeni menduga telah terjadi penebangan liar di lerang Himalaya, berakibat terjadi erosi dan berhasil menimbun berbagai kota lembah Indus. Akibat selanjutnya adalah musnahnya permukiman beserta peradabannya.
  3. Sungai Indus berulang banjir, berakibat sejumlah kota di tepi sungai Indus terendam dan kemudian tertimbun lumpur.
  4. Dari penggalian bangunan perkotaan yang berlapis tujuh di tempat yang sama serta diketemukan sejumlah kerangka jenazah yang berserak dengan berbagai ukuran. Hal ini menunjukkan pernah terjadi pembantaian. Kemmungkinan ini dikarenakan serangan dari bangsa Arya
  5. faktor kekeringan yang diakibatkan oleh musim kering yang amat dahsyat serta amat lama yang dialami oleh para pendukung kebudayaan itu
Please follow and like us:
0

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *