Kedatangan komunisme di Indonesia

sneevlietSejauh penelitian yang ada, nama Sneevliet adalah pembawa ideologi komunisme dari Belanda dan disebarkan di Indonesia. Tidak hanya kepada orang Belanda di Indonesia, tapi juga orang Indonesia. Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet. Lahir di Rotterdam, 13 Mei 1883. Sejak tahun 1902 ia sudah aktif dalam kehidupan partai politik. Waktu itu ia tergabung dalam Sociaal Democratische Arbeid Partij (SDAP) di Nederland sampai 1909. Ketika keluar tahun 1909, Sneevliet aktif di dunia perdagangan. Di situlah ia memasuki wilayah Indonesia( Ricklefs, 2002; McVey, 2010 & Shiraishi, 2007).

Tahun 1913 tokoh ini tiba di Indonesia. Ia sempat bekerja di harian ‘Soerabajaasch Handelsblad’, Surabaya. Masih di tahun yang sama, ia pindah ke Semarang dan diangkat menjadi sekretaris di perusahaan bertajuk Semarangsche Handelsvereniging. Tahun 1914, Sneevliet mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereniging atau ISDV. Organisasi politik yang tujuannya untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Indonesia. Adalah majalah Het Vrije Woord yang menjadi corong propaganda ISDV. Beberapa tokoh Belanda yang juga aktif membantu Sneevliet adalah Bergsma, Adolf Baars, Van Burink, Brandsteder dan HW Dekker. Di kalangan pemuda Indonesia tersebut nama-nama Semaun, Alimin dan Darsono. Juga buruh buruh kereta api dan trem yang bernaung dibawah organisasi Vereniging van Spoor Tramweg Personal atau VTSP (Abidin & Lopa, 1982; Ricklefs, 2002; Reid, 1996; Shiraishi, 2007; Suryanegara, 2009).

Semula Semaun, Darsono dan Alimin adalah anak buah HOS Tjokroaminoto. Mereka terdaftar sebagai anggota Central Sarekat Islam (CSI) di Surabaya sejak 1915. Setelah cukup dekat dengan Sneevliet, ketiganya memutuskan pindah ke Semarang. Tempat di mana Sneevliet mendirikan ISDV. Di Semarang, mereka menjadi pimpinan SI lokal. Karena sikap dan prinsip komunisme mereka yang semakin radikal, hubungan dengan anggota SI lainnya mulai renggang. Bahkan saat kongres ketiga di Bandung, Semaun dengan lantang dan terang-terangan menentang agama sebagai dasar pergerakan SI. Dalam menghadapi gerakan SI ini, maka PKI mengadakan Kongres pada tanggal 24-25 Desember 1921, dan memutuskan bahwa cabang-cabang SI yang telah dikeluarkan harus membentuk SI Merah sebagai tandingan SI Putih (Djaelani, 2000). Akibatnya SI pecah menjadi SI Putih yang dipimpin HOS Tjokroaminoto, H.Agus Salim dan Abdul Muis. Di sisi lain ada SI Merah yang dikepalai Semaun dan teman temannya (Shiraishi, 2007).

Sneevliet dan teman teman Belandanya memperluas pengaruh mereka ke kalangan yang memiliki posisi penting. Militer yang waktu itu personilnya sekitar 25.000 termasuk yang diincar Sneevliet. Yang ‘digarap’ Sneevliet adalah serdadu-serdadu angkatan darat. Angkatan laut digarap Brandsterder. Semaun, Darsono dan Alimin ditugaskan mempropaganda ke kalangan rakyat yang menjadi anggota SI  (McVey, 2010 & Ricklefs, 2002).

Pemerintah Hindia Belanda yang mulai mengangkap gelagat tidak baik ISDV dengan propaganda komunisnya, menangkap Sneevliet dan mengusirnya dari Indonesia. Adapun ISDV yang sudah kehilangan pemimpin-pemimpin akibat diusir dari Indonesia, juga mulai dijauhi masyarakat karena sikap mereka yang seringkali radikal dan membuat jengkel masyarakat (Shiraishi, 2007). Menurut Wirawan (2007)  pada  bulan 23 Mei  1920 organisasi  ini  berganti  nama  menjadi  Perserikatan  Komunis  di Hindia  dan  pada  tahun  1924  berganti  nama  lagi  menjadi  Partai Komunis Indonesia dengan ketua Semaun.

Dalam menghadapi gerakan SI ini, maka PKI mengadakan Kongres pada tanggal 24-25 Desember 1921, dan memutuskan bahwa cabang-cabang SI yang telah dikeluarkan harus membentuk SI Merah sebagai tandingan SI Putih (SI asli).

Tokoh kiri yang tidak kalah peranannya adalah Tan Malaka. Ia lahir di Gadang, Sumatera Barat. Saat berumur 16 tahun, Tan dikirim ke Nederland. Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan muda. Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun. Oleh Semaun, ia diserahi tugas ‘mulia’ untuk membina dan mengajari generasi muda setempat dengan paham komunisme di sebuah sekolah. Sekolah ini kemudian diberi nama ‘Sekolah Tan Malaka’ (Susilo, 2008).

Murid yang dianggap berprestasi akan direkomendasikan menjadi pengurus PKI. Di saat-saat kosong atau hari hari khusus mereka ditugaskan untuk melakukan propaganda dikampung-kampung. Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai. Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke Kupang. Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskow dan Belanda (poezze, 2008).

Selain menyusup ke kalangan masyarakat, PKI juga terang terangan menuliskan agitasinya lewat media massa. Tak sedikit media yang berkedok Islam, padahal di belakangnya komunis. Di antaranya yang terbit di Semarang seperti Sinar Hindia, Soeara Ra’jat, Si Tetap, dan Barisan Moeda. Di Surakarta antara lain Islam Bergerak, Medan Moeslimin, Persatuan Ra’jat Senopati dan Hobromarkoto Mowo. Di Surabaya ada Proletar, di Jogjakarta terkenal dengan Kromo Mardiko dan di Bandung dengan Matahari, Mataram, Soerapati, dan Titar. Di Jakarta ada dua yaitu Njala dan Kijahi Djagoer (Shiraishi, 2007).

Pada Kongres PKI tanggal 11-17 Desember 1924 di Kota Gede Yogyakarta, dibicarakan tentang rencana gerakan secara serentak diseluruh Indonesia. Yang menjadi ‘kembang’ di kongres kali itu bernama Alirahman yang mengusulkan diadakan gerakan revolusioner dengan membentuk kelompok-kelompok yang masing masing terdiri dari 10 orang. Tapi usulannya ini kurang begitu disambut, pimpinan PKI saat itu Darsono. Dibanding rekan seangkatannya Semaun, Darsono tergolong lunak. Dia tidak pernah menginginkan terjadinya pertumpahan darah, atau penggunaaan bom, teror dan tindakan radikal lainnya. Ketika para pendiri PKI seperti Darsono, Semaun dan Alimin sudah hengkang ke luar negeri, pimpinan pimpinan PKI pusat maupun daerah menjadi lebih radikal dan melakukan pemberontakan di berbagai tempat di Jawa (Febi, 2000)

Please follow and like us:
0
No Comments

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *