Pengakuan kedaulatan Indonesia

pengakuan kedaulatanPada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno di damping Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Hal ini bukan berarti bahwa Indonesia sudah benar-benar terbebas dari penjajahan. Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia tersebut. Hal ini berdasarkan bahwa menurut perjanjian antara Jepang dengan Sukutu yang menyatakan bahwa Jepang wajib menerapkan status quo di Indonesia yaitu status tetap tidak ada perubahan apapun. Dengan kata lain bahwa Jepang tidak boleh membiarkan bangsa Indonesia merdeka.

Kedatangan Sekutu ke tanah air dibonceng oleh tentara NICA (Belanda) yang ingin kembali menjajah Indoneisa. Hal tersebut bertentangan dengan semangat kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu dalam periode 1945-1949, bangsa Indonesia melakukan usaha dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Pemerintah dan rakyat bersama-sama dan satu semangat untuk mengusir Belanda dari Indonesia.

Usaha yang dilakukan dengan dua cari yakni diplomasi dan militer. Jalur diplomasi dipilih dikarenakan bahwa persenjataan bangsa Indonesia sangat terbatas yakni hasil dari rampasan Jepang, selain itu jalur diplomasi dipilih juga dikarenakan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa. Diplomasi juga merupakan taktik bangsa Indonesia untuk menarik dukungan internasional yang mencitrakan bahwa bangsa Indonesia adalah negara suka dengan perdamaian. Beberapa perungingan yang dilakukan dengan Belanda antara lain: Perundingan Linggarjari, Renville, Roem-Royen dan Konferensi Meja Bundar (KMB).

Strategi dalam mempertahankan kemerdekaan juga melalui jalur militer atau dengan menggunakan kekuatan fisik. Pada awal kemerdekaan, Indonesia tidak segera membentuk tentara nasional melainkan membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). BKR yang dibentuk pada tanggal 22 Agustus 1945 tidak memuaskan bagi beberapa kalangan sehingga menuntut pemerintah untuk membentuk tentara nasional. Maka keluarlah maklumat 5 Oktober 1945 yang menyatakan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Para pemuda Indonesia sudah memiliki kemampuan dalam militer. Hal ini disebabkan pada masa pemerintahan Jepang, para pemuda dilatih militer. Kemampuan militer itu kemudian diaplikasikan dalam menghadapi tentara Belanda. Dengan senjata yang tidak mumpuni bangsa Indonesia berani menantang Belanda dan Sekutu yang merupakan pemenang Perang Dunia II yang memiliki senjata canggih. Hal ini menandakan bahwa semangat heroic bangsa Indonesia dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Berbagai pertempuran antara lain: Pertempuran Surabaya, Bandung Lautan Api, Palagan Ambarawa, Medan Area, Puputan di Bali, Serangan umum 1 maret di Yogyakarta dan berbagai pertempuran lainnya.

Perjuangan secara Diplomasi dan Militer, bagaikan satu keping mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Diplomasi dan militer sangat mendukung dalam upaya mendapatkan pengakuan kedaulatan. Puncak dari perjuangan tersebut, terjadi Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda. Pemerintah Belanda dan RI duduk satu meja guna membahas pengakuan kedaulatan Indonesia. Hasilnya adalah Belanda mengakui kedaulatan Indoneisa.

Upacara pengakuan kedaulatan dilakukan secara bersamaan, baik di Indonesia maupun di Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.

  1. Di ruang istana Kerajaan Belanda; Ratu Juliana, PM Dr. William Drees, Menteri Seberang Lautan Mr. A.M.J.A Sassen, dan Ketua Delegasi RIS Drs. Moch. Hatta secara bersama-sama membubuhkan tanda tangan pada naskah pengakuan kedaulatan tersebut;
  2. Di Jakarta; Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Tinggi Mahkota Belanda, A.H.J. Lovink dalam suatu upacara secara bersama-sama membubuhkan tanda tangan pada naskah pengakuan kedaulatan tersebut;
  3. Pada waktu yang sama, di Yogyakarta dilakukan penyerahan kedaulatan RI kepada RIS.

Pemerintah Belanda tidak bersedia menyelesaikan masalah Irian Barat (Papua sekarang) seperti yang disebutkan dalam isi perjanjian KMB. Sedangkan dari dalam negeri timbul masalah baru yang berkaitan dengan: (1) masalah integrasi, (2) masalah angkatan bersenjata, dan (3) masalah penolakan rakyat negara-negara bagian terhadap RIS (bentuk negara federasi).

Baca Juga:

Kedatangan AFNEI ke Indonesia

Organisasi militer bentukan Jepang

Hasil sidang PPKI

Perundingan Linggarjati

Perundingan Renville

Perundingan Roem Royen

Konferensi Meja Bundar

Pertempuran Surabaya

Pertempuran Medan Area

Puputan di Bali

Bandung Lautan Api

Republik Indonesia Serikat

Please follow and like us:
0

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *