Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Jepang

perlawanan PETAPada awal kedatangan di Indonesia, Jepang mendapatkan sambutan hangat oleh rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia bersimpati dengan pihak Jepang dikarenakan propaganda Jepang sangat menarik dan rakyat sudah sangat menderita akibat penjajahan Jepang. Maka saat pertama kali mendarat di Indonesia, banyak orang Indonesia yang membantu Jepang dalam mengalahkan tentara Belanda. Lama kelamaan nampaklah sifat Jepang yang sebenarnya. Jepang begitu kejam terhadap rakyat Indonesia. Sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia diperas habis-habisan untuk kepentingan perang Jepang.

Kesewenang-wenangan Jepang kemudian memunculkan perlawanan diberbagai daerah di Indonesia, antara lain:

Perlawanan Rakyat Aceh terhadap Jepang

Salah satu perlawanan terhadap Jepang di Aceh adalah perlawananan rakyat yang terjadi di Cot Plieng yang dipimpin oleh Abdul Jalil. Abdul Jalil adalah seorang ulama muda, guru mengaji di daerah Cot Plieng, Provinsi Aceh. Karena melihat kekejaman dan kesewenangan pemerintah pendudukan Jepang, terutama terhadap romusa, maka rakyat Cot Plieng melancarkan perlawanan.Abdul Jalil memimpin rakyat Cot Plieng untuk melawan tindak penindasan dan kekejaman yang dilakukan pendudukan Jepang.

Perlawanan Rakyat Singaparna Jawa Barat

KH. Zaenal MustofaSelain penderitaan akibat adanya Romusha, Selain itu, rakyat juga diwajibkaan menyerahkan padi dan beras dengan aturan yang sangat menjerat dan menindas rakyat, sehingga penderitaan terjadi di mana-mana. Perlawanan rakyat Singaparna terhadap Jepang dipimpin oleh K.H Zainal Mustofa. Sebab khusus dari perlawanan yang dilakukan oleh K.H Zainal Mustofa adalah adanya perintah untuk melakukan Seikerei yaitu membungkukkan badan kea rah matahari terbit. Hal ini sangat ditentang oleh K.H Zainal Mustofa dikarenakan menyalahi akidah agama Islam. Oleh karena itu K.H Zainal Mustofa mengobarkan perlawanan terhadap Jepang.

Perlawanan Rakyat Indramayu terhadap Jepang

Perlawanan rakyat Indramayu antara lain terjadi di Desa  Kaplongan, Distrik Karangampel  pada bulan April 1944. Kemudian pada bulan Juli, muncul pula perlawanan rakyat di Desa Cidempet, Kecamatan Lohbener. Pemimpin perlawanan rakyat Indramayu terhadap jepang adalah Madriya. Perlawanan tersebut terjadi karena rakyat merasa tertindas dengan adanya kebijakan penarikan hasil padi yang sangat memberatkan. Rakyat yang baru saja memanen padinya harus langsung dibawa ke balai desa. Setelah itu, pemilik mengajukan permohonan kembali untuk mendapat sebagian padi hasil panennya. Rakyat tidak dapat menerima cara-cara Jepang yang demikian. Rakyat protes dan melawan. Mereka bersemboyan “lebih baik mati melawan Jepang daripada mati kelaparan”. Setelah kejadian tersebut, maka terjadilah perlawanan yang dilancarkan oleh rakyat. Namun, sekali lagi rakyat tidak mampu melawan kekuatan Jepang yang didukung dengan tentara dan peralatan yang lengkap. Rakyat telah menjadi korban dalam membela bumi tanah airnya.

Perlawanan Rakyat Kalimantan terhadap Jepang

Rakyat melawan Jepang karena himpitan penin  dasan yang dirasakan sangat berat. Salah satu perlawanan di Kalimantan adalah perlawanan yang dipimpin oleh Pang Suma, seorang pemimpin Suku Dayak. Pemimpin Suku Dayak ini memiliki pengaruh yang luas di kalangan orang-orang atau suku-suku dari daerah Tayan, Meliau, dan sekitarnya.

Perlawanan Rakyat Papua terhadap Jepang

Gerakan perlawanan yang terkenal di Papua adalah “Gerakan Koreri” yang berpusat di Biak dengan pemimpinnya bernama L. Rumkorem. Biak merupakan pusat pergolakan untuk melawan pendudukan Jepang. Rakyat Irian memiliki semangat juang pantang menyerah, sekalipun Jepang sangat kuat, sedangkan rakyat hanya menggunakan senjata seadanya untuk melawan. Selain di Biak, di berbagai daerah lain di Papua juga melakukan perlawanan terhadap Belanda, seperti di Yapen yang dipimpin oleh Nimrod, dan di tanah besar yang dipimpin oleh Simson.

Perlawanan PETA

PETA merupakan salah satu organisasi militer yang dibentuk oleh Jepang. Peta adalah organisasi militer. Karena itu, para anggota Peta juga mendapatkanlatihan kemiliteran.  Mula-mula yang ditugasi untuk melatih anggota Peta adalah seksi khusus dari bagian intelijen yang disebut  Tokubetsu Han. tanggal 3 Oktober 1943 secara resmi berdirilah Peta. Berdirinya Peta ini  berdasarkan peraturan dari pemerintah Jepang yang disebut Osamu Seinendan, nomor 44. Berdirinya Peta ternyata mendapat sambutan hangat di kalangan pemuda. Banyak di antara para pemuda yang tergabung dalam Seinendan mendaftarkan diri menjadi anggota Peta. Anggota Peta yang bergabung berasal dari berbagai golongan di dalam masyarakat. Tentara PETA hidup dalam kamp kamp militer yang bentuk oleh Jepang. Kehidupan tentara PETA dijamin oleh Jepang.

Anggota PETA menyadi penderitaan yang dialami oleh rakyat Indonesia. Oleh karena itu muncul berbagai perlawanan PETA, antara lain di Blitar, Aceh dan Cilacap.

supriyadiPerlawanan PETA di Blitar dipimpin oleh Chudanco Supriyadi. Penyebab dari perlawanan PETA di Blitar disebabkan oleh tindakan sewenang-wenang Jepang terhadap rakyat Blitar. Tentara PETA merasa prihatin terhadap perlakuan tersebut, sehingga mengadakan perlawanan. Akan tetapi pada akhirnya perlawanan dapat dipadamkan oleh Jepang. Setelah melalui beberapa kali persidangan, mereka kemudian dijatuhi hukuman sesuai dengan peranan masing-masing  dalam perlawanan itu. Ada yang mendapat pidana mati, ada yang seumur hidup, dan sebagainya. Mereka yang dipidana mati  antara lain, dr. Ismail, Muradi, Suparyono, Halir Mangkudijoyo, Sunanto, dan Sudarno. Sementara itu, Supriyadi tidak jelas beritanya dan tidak disebut-sebut dalam peng  adilan tersebut.

Perlawanan tentara PETA di Aceh. Kebencian rakyat Aceh terhadap Jepang semakin meluas sehingga muncul perlawanan di Jangka Buyadi bawah pimpinan perwira Gyugun Abdul Hamid.Dalam situasi perang yang meluas ke berbagai tempat, Jepang mencari cara yang efektif untuk menghentikan perlawanan Abdul Hamid. Jepang menangkap dan menyandera semua anggota keluarga Abdul Hamid. Dengan berat hati akhirnya Abdul Hamid mengakhiri perlawanannya.

Perlawanan tentara PETA di Cilacap. Perlawanan PETA Cilacap dipimpin oleh Budanco Kusaeri. Perlawanan direncanakan akan dimulai pada tanggal 21 April 1945 akan tetapi diketahui oleh Jepang. Sehingga pada tanggal 25 April 1945, Kusaeri dan teman-temannya ditangkap.

No Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *