Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Pendudukan Jepang

Perlawanan bangsa Indonesia terhadap penindasan yang dilakukan oleh Jepang dilakukan dengan berbagai cara antara lain (1) kooperatif, (2) gerakan bawah tanah dam (3) perlawanan bersenjata. Taktik kooperatif diambil oleh beberapa tokoh nasionalis yang pada masa kolonialisme Belanda bersikap non kooperatif. Perubahan ini dikarenakan kekejaman pemerintah militer Jepang dalam menindas kelompok pejuang kemerdekaan. Cara kooperatif dilakukan dengan cara bergabung kedalam organisasi yang dibentuk oleh Jepang. Misalnya saja tokoh yang dikenal empat serangkai yang menjadi pimpinan dari Putera.

Tokoh empat serangkai yakni : Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara dan K.H Mas Mansyur. Tokoh tersebut memanfaatkan Putera untuk menyebarluaskan ide ide nasionalisme bangsa Indonesia.

Empat Serangkai

**

Perlawanan Bawah Tanah

Perlawanan gerakan bawah tanah yakni perlawanan non kooperatif atau tidak mau bekerjasama dengan Jepang dilakukan secara sembunyi sembunyi misalnya menyamar menjadi pedangang nanas yang dilakukan oleh Sutan Syahrir, menyusup sebagai pegawai kantor propaganda Jepang (sendenbu) yang dilakukan oleh Adam Malik dkk, menjadi anggota Kaigun contohnya Ahmad Soebardjo. Beberapa kelompok perlawanan bawah tanah antara lain:

  • Kelompok Sukarni, Adam Malik dan Pandu Wiguna
  • Kelompok Sutan Syahrir
  • Kelompok Ahmad Soebardjo, Sudiro dan Wikana.
  • Kelompok Syarif Thayyeb, Eri Sudewo dan Chairul Saleh
  • Kelompok Pemuda Persatuan Minahasa

Contoh kegiatan perlawanan bawah tanah antara lain:

  • Menyebarluaskan cita cita kemerdekaan
  • Membuka kebohongan propaganda Jepang
  • Mempersiapkan diri menyambut kemerdekaan indonesia pada saat kekalahan Jepang
  • Menghimpun pemuda pemuda untuk belajar tentang nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia
Sukarni
Sutan Syahrir
Ahmad Soebardjo

***

Perlawanan bersenjata terhadap Jepang

Perlawanan di Aceh, meletus di daerah Cot Plieng yang dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil pada bulan November 1942. Tengku Abdul Jalil adalah seorang guru mengaji di Cot Plieng. Perlawanan Cot Plieng diawali dengan tindakan semena mena pemerintah Pendudukan Jepang dan kebiasaan Seikerei yang bertentangan dengan ajara Islam. Jepang berusaha mendekati Tengku Abdul Jalil tetapi ditolak, sehingga pada tanggal 10 November 1942 pasukan Jepang menyerang ke Cot Plieng. Serangan Jepang yang pertama ini dapat dilawan oleh rakyat Aceh. Begitu juga dengan serangan yang kedua dapat dipatahkan. Akhirnya Tengku Abdul Jalil mati ditembak oleh Jepang pada saat sedang melaksanakan salat.

Setelah itu, di Aceh muncul kembali perlawanan terhadap Jepang di daerah Pandreh Kabupaten Berena. Pemimpinnya adalah seorang perwira Giyugun yang bernama Tengku Abdul Hamid. Tengku Abdul Hamid bersama 20 pleton pasukan melarikan diri dari asrama Giyugun, kemudian bergerilya di daerah pegunungan. Perlawanan ini muncul disebabkan oleh Tengku Abdul Hamid tidak setuju dengan praktik eksploitasi Jepang terhadap tanah pertanian dan pengerahan romusha. Untuk menangkapnya, Jepang menyandera keluarganya. Dengan cara itu, Tengku Abdul Hamid tertangkap dan pasukannya pun bubar.

KH Zanal Mustafa

Perlawanan di Jawa Barat, khususnya diPondok Pesantren Sukamanah, Singaparna, Tasikmalaya meletus pada tanggal 25 Februari 1944. Sebelum terjadi perlawanan bersenjata, K.H. Zaenal Mustafa tidak mematuhi perintah Jepang untuk melakukan seikeirei, yaitu penghormatan dengan membungkukkan badan menghadap ke Tokyo untuk menghormati Kaisar Jepang. Menurut K.H. Zaenal Mustafa, perintah itu bertentangan dengan ajaran Islam karena dapat dianggap perbuatan musyrik. Jepang tidak menerima penolakan ini dan menganggap K.H. Zaenal Mustafa sebagai orang yang membahayakan wibawa pemerintah Jepang. Akhirnya pada tanggal 25 Februari 1944 terjadilah pertempuran antara pasukan yang dipimpin K.H. Zaenal Mustafa dengan tentara Jepang.Dalam pertempuran ini, tentara Jepang berhasil menangkap K.H. Zaenal Mustafa dan kawan-kawan seperjuangannya K.H. Zaenal Mustafa dimasukkan ke penjara dan dihukum mati pada 25 Oktober 1944.

Perlawanan di daerah Jawa Barat lainnya adalah di Indramayu dan Loh Bener serta Sindang di daerah Pantai Utara Jawa Barat dekat Cirebon. Perlawanan itu dipimpin oleh H. Madriyas. Perlawanan rakyat indramayu dilatarbelakangi adanya kewajiban penyerahan hasil panen padi dan romusha yang mengakibatkan penderitaan rakyat. Perlawanan ini pun berhasil dipatahkan oleh tentara Jepang. Di daerah Cilacap juga terjadi perlawanan terhadap Jepang. Pasukan Peta yang dipimpin oleh Bundanco Kusaeri melakukan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 21 April 1945. Pemerintah Jepang berhasil menangkap Kusaeri.

Supriyadi

Di Blitar, perlawanan meletus pada tanggal 14 Februari 1945 yang dipimpin oleh Shodanco Supriyadi, Muradi, Suparyono, Sunanto, Sudarmo, dan Halir. Supriyadi adalah Komandan Pleton I, Kompi III dari Batalyon II pasukan Peta di Blitar. Perlawanan Peta di Blitar disebabkan oleh kekecewaan para tentara Peta saat bertugas mengawasi pekerjaan para romusha yang bekerja membangun kubu pertahanan di daerah pantai Selatan Jawa timur. Penindasan tersebut membuat pasukan Peta akhirnya melawan. Sejak pukul 03.00 WIB pasukannya sudah melancarkan serangan hebat dan tentara Jepang terdesak. Namun, pasukan Supriyadi mampu dikalahkan setelah bala bantuan Jepang yang sangat besar datang. Kurang lebih 70 tentara Peta diajukan pada pengadilan militer Jepang untuk diadili. Supriyadi sendiri dalam proses pengadilan tidak disebut-sebut. Supriyadi dinyatakan hilang.

Perlawanan terhadap Jepang juga terjadi di Kalimantan. Salah satu perlawanan di Kalimantan adalah perlawanan yang dipimpin oleh Pang Suma, seorang pemimpin Suku Dayak. Pemimpin Suku Dayak ini memiliki pengaruh yang luas di kalangan orang-orang atau suku-suku dari daerah Tayan, Meliau, dan sekitarnya. Latarbelakang perlawanan PangSuma disebabkan oleh adanya pemukulan terhadap tenaga kerja Dayak oleh pengawas Jepang. Pang Suma kemudian melakukan taktik perang gerilya. Akhirnya perlawanan Pang Suma dapat dikalahkan oleh Jepang dikarenakan adanya mata mata penduduk lokal yang menginformasikan strategi pergerakan pasukan Pang Suma.

Gerakan perlawanan yang terkenal di Papua adalah “Gerakan Koreri” yang berpusat di Biak dengan pemimpinnya bernama L. Rumkorem. Biak merupakan pusat pergolakan untuk melawan pendudukan Jepang dikarenakan adanya penderitaan rakyat yang diperlakukan sebagai budak belian. Rakyat Irian memiliki semangat juang pantang menyerah, sekalipun Jepang sangat kuat, sedangkan rakyat hanya menggunakan senjata seadanya untuk melawan. Perlawanan yang sangat gigih berakhir dengan Jepang meninggalkan Pulau Biak.

Selain di Biak, di berbagai daerah lain di Papua juga melakukan perlawanan terhadap Belanda, seperti di Yapen yang dipimpin oleh Nimrod, dan di tanah besar yang dipimpin oleh Simson. Di Yapen Selatan muncul perlawanan yang dipimpin oleh Silas Papare.

Silas Papare

Untuk menambah informasi, silahkan baca materi berikut ini:

  • Serangan Jepang ke Pearl Harbour klik DI SINI
  • Kedatangan Jepang ke Indonesia klik DI SINI
  • Propaganda Jepang untuk menarik simpati bangsa Indonesia klik DI SINI
  • Kebijakan Jepang di Indonesia klik DI SINI
  • Kebijakan ekonomi pada masa Pendudukan Jepang klik DI SINI
  • Eksploitasi ekonomi pada masa Pendudukan Jepang di Indonesia klik DI SINI
  • Pemerintahan Militer dan Sipil Jepang di Indonesia klik DI SINI
  • Organisasi Organisasi Bentukan Jepang di Indonesia klik DI SINI
  • Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Pendudukan Jepang klik DI SINI
  • Akhir kekuasaan Jepang di Indonesia klik DI SINI
  • Dampak Positif dan Negatif Pendudukan Jepang di Indonesia klik DI SINI

LATIHAN SOAL

  1. Pada awalnya kedatangannya, Jepang mendapatkan dukungan dari rakyat Indonesia. Tapi kemudian sikap bangsa Indonesia berubah. Mengapa hal tersebut terjadi?
  2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan perlawanan bawah tanah!
  3. Mengapa tokoh nasionalis memilih cara kooperatif terhadap Jepang?
  4. Jelaskan mengenai garis besar penyebab terjadinya perlawanan terhadap Jepang!
  5. Setelah membaca berbagai perlawanan terhadap Jepang, menurut pendapat kalian mengapa perlawanan berujung dengan kegagalan?