Perlawanan Kesultanan Palembang terhadap Belanda

Pada awalnya Palembang termasuk ke wilayah kekuasaan Demak. Oleh Demak, Palembang dijadikan pangkalan untuk menyerang Portugis di Malaka, sekaligus untuk membendung serangan orang Eropa ke Jawa. Setelah Raja Demak, Raden Patah, wafat, sebagian bangsawan Demak melarikan diri ke Palembang. Mereka mendirikan kesultanan baru dengan Ki Gedeng Suro (1539-1572) sebagai raja pertama.

Kontak pertama Kesultanan Palembang dengan VOC terjadi pada 1610, tetapi karena VOC tidak dipedulikan kepentingannya maka selalu terjadi kerenggangan. Pada 1658 wakil dagang VOC, Ockersz beserta pasukannya dibunuh dan dua buah kapalnya yaitu Wachter dan Jacatra dirampas. Akibatnya pada 4 November 1659 terjadi peperangan antara Kesultanan Palembang dengan VOC di bawah pimpinan Laksamana Joan van der Laen.

Pada perang ini Keraton Kesultanan Palembang dibakar. Demikian pula Kuta dan permukiman penduduk Cina, Portugis, Arab dan bangsa bangsa lainnya yang berada di seberang Kuta juga dibakar. Kota Palembang dapat direbut lagi oleh pasukan Palembang dan kemudian dilakukan pembangunan-pembangunan, kecuali Masjid Agung yang hingga kini masih dapat disaksikan meskipun sudah ada beberapa perubahan.

Sejak timah ditemukan di Bangka pada pertengahan abad ke-18, Palembang dan wilayahnya menjadi incaran Inggris dan Belanda. Demi menjalin kontrak dagang, bangsa Eropa berniat menguasai Palembang. Pada tahun 1812, Sultan Mahmud berperang melawan pasukan Inggris yang mulai menguasai wilayah Nusantara setelah Belanda menyerah. Benteng Kesultanan Palembang di Bontang direbut oleh Inggris sehingga terpaksa Sultan mengungsi ke Muara Belida. Pada tanggal 19 Maret 1812, Sultan Mahmud Badaruddin diperintah Inggris untuk turun tahta. Oleh Inggris, Ahmad Najamuddin, adik Mahmud Badaruddin, naik singgasana Palembang. Pada 1816, Inggris menyerahkan Palembang kepada Belanda kembali.

Sejak pemerintahan Sultan Mahmud Badarudin II mendapat serangan dari pasukan Hindia Belanda pada Juli 1819 atau yang dikenal sebagai Perang Menteng (diambil dari kata Muntinghe). Serangan besar-besaran oleh pasukan Belanda pimpinan J.C. Wolterboek yang terjadi pada Oktober 1819 juga dapat dipukul mundur oleh prajurit-prajurit Kesultanan Palembang. Tetapi pihak Belanda pada Juni 1821 mencoba lagi melakukan penyerangan dengan banyak armada di bawah pimpinan panglima Jenderal de Kock. Sultan Mahmud Badaruddin II ditangkap kemudian dibuang ke Ternate.

Kesultanan Palembang sejak 7 Oktober 1823 dihapuskan dan kekuasaan daerah Palembang berada langsung di bawah Pemerintah Hindia Belanda dengan penempatan Residen Jon Cornelis Reijnst yang tidak diterima. Sultan Ahmad Najaruddin Prabu Anom karena memberontak akhirnya ditangkap kemudian diasingkan ke Banda, dan seterusnya dipindahkan  ke Menado.

Sumber:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2014) Sejarah Indonesia/Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. –Edisi Revisi. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Hendrayana. 2009. Sejarah 2 : Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah Program IPS Jilid 2 Kelas XI. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan nasional

Please follow and like us:
0

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *