Kerajaan Samudra Pasai

peta_samudera_pasaiSamudra Pasai diperkirakan tumbuh berkembang antara tahun 1270 dan 1275, atau pertengahan abad ke-13. Kerajaan ini terletak lebih kurang 15 km di sebelah timur Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, dengan sultan pertamanya bernama Sultan Malik as-Shaleh (wafat tahun 696 H atau 1297 M). Dalam kitab  Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai diceritakan bahwa Sultan Malik  as-Shaleh sebelumnya bernama Marah Silu. Setelah menganut agama  Islam kemudian berganti nama dengan Malik as-Shaleh.

Sumber Sejarah

makam_sultan_malik_al_salehMakam Sultan Malik as Shaleh yang berangka tahun 1297 merupakan bukti bahwa Islam telah masuk dan berkembang di daerah Samudra Pasai pada abad ke-12. Makan ini memiliki bentuk makam dengan daerah Gujarat India. Hal ini juga mengindikasikan bahwa Islam yang berkembang di Samudra Pasai berasal dari Gujarat. Menurut Tome Pires, Kesultanan Samudra Pasai mencapai puncaknya pada awal abad ke-16. Kesultanan itu mengalami kemajuan diberbagai bidang kehidupan seperti politik, ekonomi, pemerintahan, keagamaan, dan terutama ekonomi perdagangan. Diceritakan pula bahwa Kesultanan Samudra Pasai selalu mengadakan hubungan persahabatan dengan Malaka, bahkan hubungan persahabatan itu diperkuat dengan perkawinan.

Bukti dari keberadaan Pasai adalah ditemukannya mata uang dirham sebagai alat-tukar dagang. Pada mata uang ini tertulis nama para sultan yang memerintah Kerajaan. Nama-nama sultan (memerintah dari abad ke-14 hingga 15) yang tercetak pada mata uang tersebut di antaranya: Sultan Alauddin, Mansur Malik Zahir, Abu Zaid Malik Zahir, Muhammad Malik Zahir, Ahmad Malik Zahir, dan Abdullah Malik Zahir.

Catatan Ibnu Batutah, sejarawan dari Maroko. Kronik dari orang-orang Cina pun membuktikan hal ini. Menurut Ibnu Batutah, Samudra Pasai merupakan pusat studi Islam. Ia berkunjung ke kerajaan ini pada tahun 1345-1346. Ibnu Batutah menyebutnya sebagai “Sumutrah”, ejaannya untuk nama Samudra, yang kemudian menjadi Sumatera. Ketika singgah di pelabuhan Pasai, Batutah dijemput oleh laksamana muda dari Pasai bernama Bohruz. Lalu laksmana tersebut memberitakan kedatangan Batutah kepada Raja. Ia diundang ke Istana dan bertemu dengan Sultan Muhammad, cucu Malik as-Saleh. Batutah singgah sebentar di Samudra Pasai dari Delhi, India, untuk melanjutkan pelayarannya ke Cina.

Raja-raja Samudra Pasai

Sebenarnya Kerajaan Samudra Pasai sudah ada sejak tahun 1128 dengan nama Kerajaan Samudra. Pendirinya adalah Nasimuddin al-Kamil dari Mesir. Namun karena pusat pemerintahannya dipindah ke Pasai, lalu namanya diganti Samudra Pasai. Raja pertama dari kerajaan Samudra Pasai adalah Merah Silu yang bergelar Sultan Malik as Saleh

Berikut ini adalah urutan para raja yang memerintah di Samudra Pasai, yakni:

  1. Sultan Malik as-Shaleh (696 H/1297 M);
  2. Sultan Muhammad Malik Zahir (1297-1326);
  3. Sultan Mahmud Malik Zahir (± 1346-1383);
  4. Sultan Zainal Abidin Malik Zahir (1383-1405);
  5. Sultanah Nahrisyah (1405-1412);
  6. Abu Zain Malik Zahir (1412);
  7. Mahmud Malik Zahir (1513-1524).

Kondisi Kerajaan Samudra Pasai

Masyarakat di Samudra hidup teratur dan damai yang diatur oleh hukum Islam seperti kehidupan masyarakat yang ada di Mekah. Samudra Pasai merupakan pelabuhan penting yang banyak didatangi oleh para pedagang dari berbagai penjuru dunia, misalnya Gujarat dan Persia. Hal ini dikarenakan letak Samudra Pasai yang strategis. Akibatnya, pengaruh India dan Persia sangat besar di sana. Pedagang Cina juga datang ke sana untuk memasarkan dagangannya. Barang dagangan utama adalah lada yang menjadi bahan ekspor negara. Untuk kepentingan dagang sudah dikenal uang sebagai alat tukar berupa uang emas yang dinamakan deureuham (dirham).

Samudra Pasai memanfaatkan Selat Malaka yang menghubungkan Samudra Pasai – Arab – India – Cina. Samudra Pasai juga menyiapkan bandar-bandar dagang yang digunakan untuk menambah perbekalan untuk berlayar selanjutnya, mengurus masalah perkapalan, mengumpulkan barang dagangan yang akan dikirim ke luar negeri, dan menyimpan barang dagangan sebelum diantar ke beberapa daerah di Indonesia.

Pada abad ke-16, bangsa Portugis memasuki perairan Selat Malaka dan berhasil menguasai Samudera Pasai pada 1521 hingga tahun 1541. Selanjutnya wilayah Samudera Pasai menjadi kekuasaan Kerajaan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam. Waktu itu yang menjadi raja di Aceh adalah Sultan Ali Mughayat.

Sumber:

Hendrayana. 2009. Sejarah 2 : Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah Program IPS Jilid 2 Kelas XI. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan nasional

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Sejarah Indonesia Untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X Semester 2.  Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tarusena. 2009. Sejarah 2: SMA/MA untuk kelas XI, Semester 1 dan 2 Program Pengetahuan Sosial. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan nasional

Wardaya. 2009. Cakrawala Sejarah 2 : untuk SMA / MA Kelas XI ( IPS ). Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional

No Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *