Paham Sosialis-Komunis pada masa Pegerakan Nasional

semaunPada masa penjajahan Belanda paham sosialisme sangatlah penting sebagai suatu haluan alternatif untuk melawan arus liberalisme yang secara nyata – nyata dibawa sebagai suatu paham penjajah Belanda. Yang dilakukan komunis dalam konteks benar atau salahTahun 1918-1926 ideologi komunis bergerak sangat massive (besar-besaran). Dalam konteks ini yan dilakukan komunis Benar karena untuk melawan colonial yang kapitalis digunakan bukan idenya tetapi cara-cara yang di gunakannya. Teori aliansi atau mengasingkan diri untuk membentuk kekuatan. Kaum intelek cenderung melakukan pengasingannya karena kondisi social yang memaksanya untuk pengebiran diri.

Strateginya yaitu: Masuk kedalam organisasi untuk menjadi anggotanya dan Dia harus menguasai organisasi tersebut. Asumsi beda bahwa kaum intelek Indonesia berasal dari kalangan aristocrat atau priyayi yang jarak social dan relasi social dengan rakyat memang agak jauh tetapi bila melihat penerapan konsep Islam dalam kehidupan masyarakat tampaknya tidak ada jarak antara intelektual dan rakyat. Apalagi benteng Islam terletak pada kawasan pesantren, surau, langgar, dan masjid. Kawasan itu disamping sebagai kawasan kegiatan keagamaan juga sebagai kawasan pendidikan dan social.

Dalam hal ini SI yang mengalami perkembangan pesat, kemudian mulai disusupi oleh paham sosialisme revolusioner.Paham ini disebarkan oleh H.J.F.M Sneevliet yang mendirikan organisasi ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) pada tahun 1914. Pada mulanya ISDV sudah mencoba menyebarkan pengaruhnya, tetapi karena paham yang mereka anut tidak berakar di dalam masyarakat Indonesia melainkan diimpor dari Eropa oleh orang Belanda, sehingga usahanya kurang berhasil. Sehingga mereka menggunakan taktik infiltrasi yang dikenal sebagai “Blok di dalam”, mereka berhasil menyusup ke dalam tubuh SI oleh karena dengan tujuan yang sama yaitu membela rakyat kecil dan menentang kapitalisme namun dengan cara yang berbeda.

Dengan usaha yang baik, mereka berhasil mempengaruhi tokoh-tokoh muda SI seperti Semaoen, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin Prawirodirdjo. Hal ini menyebabkan SI pecah menjadi “SI Putih” yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto dan “SI Merah” yang dipimpin Semaoen.SI merah berlandaskan asas sosialisme-komunisme.

Adapun faktor-faktor yang mempermudah infiltrasi ISDV ke dalam tubuh SI antar lain:

  1. Centraal Sarekat Islam (CSI) sebagai badan koordinasi pusat memiliki kekuasaan yang lemah. Hal ini dikarenakan tiap cabang SI bertindak sendiri-sendiri. Pemimpin cabang memiliki pengaruh yang kuat untuk menentukan nasib cabangnya, dalam hal ini Semaoen adalah ketua SI Semarang.
  2. Peraturan partai pada waktu itu memperbolehkan keanggotaan multipartai, mengingat pada mulanya organisasi seperti Boedi Oetomo dan SI merupakan organisasi non-politik. Semaoen juga memimpin ISDV (PKI) dan berhasil meningkatkan anggotanya dari 1700 orang pada tahun 1916 menjadi 20.000 orang pada tahun 1917 di sela-sela kesibukannya sebagai Ketua SI Semarang.
  3. Akibat dari Perang Dunia I, hasil panen padi yang jelek mengakibatkan membumbungnya harga-harga dan menurunnya upah karyawan perkebunan untuk mengimbangi kas pemerintah kolonial mengakibatkan dengan mudahnya rakyat memihak pada ISDV.
  4. Akibat kemiskinan yang semakin diderita rakyat semenjak Politik Pintu Terbuka (sistem liberal) dilaksanakan pemerintah kolonialis sejak tahun 1870 dan wabah pes yang melanda pada tahun 1917 di Semarang.

SI Putih (H. Agus Salim, Abdul Muis, Suryopranoto, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo) berhaluan kanan berpusat di kota Yogyakarta. Sedangkan SI Merah (Semaoen, Alimin, Darsono) berhaluan kiri berpusat di kotaSemarang. Sedangkan HOS Tjokroaminoto pada mulanya adalah penengah di antara kedua kubu tersebut. Jurang antara SI Merah dan SI Putih semakin melebar saat keluarnya pernyataan Komintern (Partai Komunis Internasional) yang menentang cita-cita Pan-Islamisme.

Please follow and like us:
0

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *