Kerajaan Kediri, Singosari hingga Majapahit

Ketiga kerajaan yang akan kita bahas kali ini terletak di daerah Jawa Timur. Baik Kerajaan Kediri, Singosari maupun Kerajaan Majapahit sama sama bercorak Hindu. Perlu kita tahu bahwa ketiga kerajaan tidak berdiri pada waktu yang bersamaan, jadi Kerajaan Kediri terlebih dahulu kemudian Kerajaan Singosari dan yang terakhir adalah Kerajaan Majapahit.

Mari kita bahas satu persatu

KERAJAAN KEDIRI

Berdirinya Kerajaan Kediri tidak bisa dilepaskan dari adanya Kerajaan Medang Kamulan. Pada masa raja Airlangga, Airlangga memutuskan untuk membagi kerajaan menjadi dua. Hal ini dilakukan oleh Airlangga dengan tujuan agar tidak terjadi pertikaian antar keturunannya. Tugas untuk membagi kerajaan diserahkan kepada Mpu Bharada. Kerajaan Janggala di sebelah timur diberikan kepada putra sulungnya yang bernama Garasakan (Jayengrana), dengan ibu kota di Kahuripan (Jiwana) meliputi daerah sekitar Surabaya sampai Pasuruan, dan Kerajaan Panjalu (Kediri) di sebelah barat diberikan kepada putra bungsunya yang bernama Samarawijaya (Jayawarsa), dengan ibu kota di Kediri (Daha).

Keadaan politik pemerintahan dan keadaan masyarakat di Kediri ini dicatat dalam berita dari Cina, yaitu dalam kitab Ling-Wai-tai-ta yang ditulis oleh Chou K’u-fei pada tahun 1178 dan pada kitab Chu-fan-chi yang disusun oleh Chaujukua pada tahun 1225. Kitab itu melukiskan keadaan pemerintahan dan masyarakat zaman Kediri. Kitab itu menggambarkan masa pemerintahan Kediri termasuk stabil dan pergantian takhta berjalan lancar tanpa menimbulkan perang saudara.

Di dalam menjalankan pemerintahannya, raja dibantu oleh tiga orang putranya dan empat pejabat kerajaan (rakryan), ditambah 300 pejabat sipil (administrasi) dan 1.000 pegawai rendahan. Prajuritnya berjumlah 30.000 orang dengan mendapat gaji dari kerajaan. Raja berpakaian sutra, memakai sepatu kulit, perhiasan emas, dan rambutnya disanggul ke atas. Jika bepergian, raja naik gajah atau kereta dengan dikawal oleh 500–700 prajurit. Pemerintah sangat memperhatikan keadaan pertanian, peternakan, dan perdagangan. Pencuri dan perampok jika tertangkap dihukum mati.

Raja Kerajaan Kediri antara lain:

  • Rakai Sirikan Sri Bameswara
  • Raja Jayabaya
  • Raja Sarweswara
  • Sri Aryyeswara
  • Sri Gandra
  • Kameswara
  • Kertajaya

Raja Jayabaya

Pada prasasti Ngantang dijelaskan bahwa Raja Jayabaya memberikan hadiah kepada rakyat desa Ngantang berupa tanah perdikan. Hadiah diberikan kepada rakyat tersebut karena telah membantu raja ketika terjadi peperangan dengan Jenggala.

Kerajaan Kediri mencapai puncak pada masa Raja Jayabaya (1130-1158). Pada masa ini para ahli sastra mendapatkan perlindungan dalam pengembangan kreatifitas untuk menghasilkan karya sastra yang bermutu. Penulisan karya sastra yang bercorak Hindu-Buddha mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa Kerajaan Kediri.

Salah satu karya sastrayang muncul pada zaman Kerajaan Kediri adalah kitab Ghatotkacasraya yang dikarang oleh Mpu Panuluh. Pada kitab Ghatotkacasraya munculnya tokoh Punakawan Dalam karya sastranya yang berjudul Ghatotkacasraya, Mpu Panuluh menampilkan unsur punakawan yang berjumlah tiga, yaitu Punta, Prasanta dan Juru Deh sebagai hamba atau abdi tokoh Abhimanyu, putra Arjuna. Dalam karyanya tersebut, Mpu Panuluh masih menggambarkan tokoh punakawan sebagai tokoh figuran yang kaku dan porsi cerita terbesar masih dipegang oleh tokoh-tokoh utama.

Karya sastra lainnya yaitu Kitab Bharatayudha yang ditulis Mpu Sedah kemudian dilanjutkan oleh Mpu Panuluh. Kakawin Bharatayudha yang menceritakan kemenangan Pandawa melawan Kurawa, sebagai bandingan terhadap kemenangan Panjalu atas Janggala.

Runtuhnya Kerajaan Kediri

Raja terakhir dari Kerajaan Kediri adalah Kertajaya atau Dandang Gendis (1190-1222). Pada masa pemerintahannya, keadaan menjadi tidak stabil, terutama konflik antara raja dan kaum Brahmana. Konflik tersebut disebabkan oleh banyaknya kebijakan-kebijakan raja yang hendak mengurangi hak-hak kaum Brahmana. Konflik itu mencapai puncaknya dengan terjadinya peperangan antara Pasukan Kediri yang menyerang Tumapel yang terdiri dari rakyat Tumapel, kaum Brahmana yang dipimpin oleh Ken Angrok (dibaca: Ken Arok). Kerajaan ini pada tahun 1222 dikalahkan oleh Ken Angrok dari Singhasasri dalam pertempuran di Ganter. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Kerajaan Panjalu (Kediri). Kemudian Ken Arok mendirikan kerajaan baru yaitu Kerajaan Singosari.

Peninggalan Kerajaan Kediri

Karya sastra peninggalan Kerajaan Kediri antara lain:

  • Kitab Wertasancaya, yang berisi petunjuk tentang cara membuat syair yang baik. Kitab itu ditulis oleh Empu Tan Akung.
  • Kitab Smaradhahana, berupa kakawin yang digubah oleh Empu Dharmaja. Kitab itu berisi pujian kepada raja sebagai seorang titisan Dewa Kama. Kitab itu juga menyebutkan bahwa nama ibu kota kerajaannya adalah Dahana.
  • Kitab Lubdaka, ditulis oleh Empu Tan Akung. Kitab itu berisi kisah Lubdaka sebagai seorang pemburu yang mestinya masuk neraka. Karena pemujaannya yang istimewa, ia ditolong dewa dan rohnya diangkat ke surga.
  • Kitab Kresnayana karangan Empu Triguna yang berisi riwayat Kresna sebagai anak nakal, tetapi dikasihi setiap orang karena suka menolong dan sakti. Kresna akhirnya menikah dengan Dewi Rukmini.
  • Kitab Samanasantaka karangan Empu Managuna yang mengisahkan Bidadari Harini yang terkena kutuk Begawan Trenawindu.

KERAJAAN SINGOSARI

Ken Arok mendirikan Kerajaan Singosari pada tahun 1222 M (abad ke-13 M) dengan pusat pemerintahannya di sekitar Kota Malang (Jawa Timur). Setelah menjadi raja Ken Arok bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Ken Arok tidak berkuasa lama. Pada tahun 1227 M, Ken Angrok dibunuh oleh seseorang atas perintah Anusapati[1]. Anusapati kemudian dibunuh oleh Tohjaya yang merupakan anak dari Ken Arok dengan Ken Umang. Tohjaya kemudian berhasil dikalahkan oleh Ranggawuni

Ranggawuni memerintah Singhasari dari tahun1248-1268. Ia bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana. Dalam menjalankan pemerintahannya, ia didampingi oleh Mahisa Campaka (yang membantu Ranggawuni memberontak pada Panji Tohjaya) yang berkedudukan sebagai perdana menteri dengan gelar Narasingamurti. Pada masa Wisnuwardhana ditulislah Prasasti Mulamalurung yang berisi tentang yang isinya menyebutkan pemberian hadiah desa Dandea Malurung oleh Wisnu Wardhana kepada Pranaraja. Juga disebutkan susunan raja di kerajaan Singhasari

Pada tahun 1268 M, Raja Wisnuwardhana meninggal. Sepeninggal Wisnuwardhana, tampuk pemerintahan kerajaan dipegang oleh putranya yang bernama Kertanegara

Raja Kertanegara

Raja terbesar dari Kerajaan Singosari adalah Kertanegara Dalam bidang politik, Kertanegara terkenal sebagai seorang raja yang mempunyai gagasan untuk meluaskan kekuasaannya meliputi seluruh wilayah Nusantara. Hal itu tampak, ketika pada tahun 1275 M mengirimkan tentaranya ke Melayu. Ekspedisi itu dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu. Adapun tujuan ekspedisi ini adalah untuk memperluas kekuasaannya di luar Jawa yaitu termasuk Melayu dan Sriwijaya. Ekspedisi ini merupakan penjabaran dari pelaksanaan politik luar negeri Kerajaan Singhasari dalam rangka menahan serbuan tentara Mongol dibawah pimpinan Kaisar Kubhilai Khan yang sedang melakukan perluasan wilayah di Asia Tenggara.

Terlalu fokus dalam perluasaan wilayah, membuat Kerajaan Singosari lemah. Kerajaan Singosari akhirnya hancur setelah mengalami serangan dari Jayakatwang yang merupakan raja dari Kerajaan Kediri.

Raden Wijaya[2] dan pengikutnya dapat meloloskan diri ketika Singhasari diserang Jayakatwang. Raden Wijaya meloloskan diri dan pergi ke Madura untuk menemui dan meminta perlindungan Bupati Sumenep dari Madura yaitu Aryawiraraja. Berkat Aryawiraraja juga, Raden Wijaya mendapat pengampunan dari Jayakatwang, bahkan Raden Wijaya sendiri diberi tanah di hutan Tarik dekat Mojokerto yang kemudian daerah itu dijadikan sebagai tempat berdirinya kerajaan Majapahit.

Kedatangan tentara dari Cina dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk mengalahkan Jayakatwang. Setelah Jayakatwang terbunuh, lalu Raden Wijaya melakukan serangan balik terhadap pasukan Kubhilai Khan. Raden Wijaya berhasil memukul mundur pasukan Kubhilai Khan, sehingga mereka terpaksa menyelamatkan diri keluar Jawa. Setelah berhasil mengusir pasukan Kubhilai Khan, Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Majapahit pada tahun 1293 M dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.

Candi peninggalan Kerajaan Singosari

Candi Badut

Candi Badut

  • Candi Badut terletak di Desa Dinoyo, sebelah barat laut Malang, merupakan candi bercorak Hindu yang didirikan sekitar abad ke-8 M. Candi Singhasari terletak di Desa Candinegoro sekitar 10 km dari kota Malang. Candi ini berasal dari abad ke-14 dan dihubungkan dengan Raja Kertanegara.
  • Candi Jago (Candi Jajaghu) terletak 18 kilometer dari kota Malang. Candi ini merupakan candi bercorak Siwa-Buddha dan bentuknya berundak-undak tiga buah serta di halaman candi terdapat beberapa patung Buddha. Candi ini dibangun pada masa Raja Kertanegara dari kerajaan Singhasari.
  • Candi Kidal terletak sekitar 7 kilometer sebelah tenggara dari candi jago. Candi ini merupakan bangunan suci untuk memuliakan raja Anusapati Raja Singhasari.
  • Candi Jajawa (Candi Jawi) terletak di Gunung Welirang yang merupakan makam Raja Kertanegara.
  • Candi Singhasari yang terletak 10 kilometer dari kota Malang. Candi sebagai tempat pendarmaan Raja Kertanegara yang digambarkan sebagai Bhairawa (Siwa-Buddha)

KERAJAAN MAJAPAHIT

Pendiri Kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Raja Singosari yaitu Raja Kertanegara. Setelah Raden Wijaya meninggal dunia, Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Jayanegara dengan gelar Sri Jayanegara

Pada masa pemerintahannya, Jayanegara terjadi serentetan pemberontakan. Pemberontakan-pemberontakan ini datang dari Ranggalawe (1309), Lembu Sora (1311), Juru Demung dan Gajah Biru (1314), Nambi (1316), dan Kuti (1320). Pemberontakan Kuti merupakan pemberontakan terbesar pada masa Kerajaan Majapahit. Kuti berhasil menduduki ibu kota Majapahit, sehingga raja Jayanegara terpaksa melarikan diri ke daerah Badandea. Jayanegara diselamatkan oleh pasukan Bhayangkari di bawah pimpinan Gajah Mada. Berkat ketangkasan dan siasat jitu dari Gajah Mada, pemberontakan Kuti berhasil ditumpas. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Gajah Mada diangkat menjadi Patih di Kahuripan pada tahun 1321 M dan Patih di Daha (Kediri).

Pada tahun 1328, Jayanegara tewas dibunuh oleh Tabib Israna Ratanca. Kemudian digantikan oleh oleh adik perempuannya yang bernama Tribhuanatunggadewi. Ia dinobatkan menjadi raja Majapahit dengan gelar Tribhuanatunggadewi Jaya Wisnu Wardhani. Pada masa

pemerintahannya, terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Gajah Mada. Sebagai penghargaan atas jasanya, Gajah Mada diangkat menjadi mahapatih di Majapahit oleh Tribhuanatunggadewi.

Di hadapan raja dan para pembesar Majapahit, Gajah Mada mengucapkan sumpah yang terkenal dengan nama Sumpah Palapa. Isi sumpahnya, ia tidak akan Amukti Palapa sebelum ia dapat menundukkan Nusantara, yaitu Gurun, Seran, Panjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik.

Kejayaan Majapahit.

lambang majapahitMajapahit mencapai puncak kejayaan pada masa Hayam Wuruk. Hayam Wuruk menggantikan Tribhuanatunggadewi. Hayam Wuruk setelah naik takhta bergelar Sri Rajasanagara. mencapai puncak kebesaran. Wilayah kekuasaan Majapahit pada masa Hayam Wuruk hampir seluas negara Indonesia sekarang. Bahkan, pengaruhnya terasa sampai ke luar Nusantara, yaitu sampai ke Thailand (Campa), Indocina, dan Filipina Selatan.

Pada masa Hayam Wuruk terjadi peristiwa Bubat yaitu pertempuran di desa bubat antara pasukan dari Kerajaan Sunda yang dipimpin oleh raja Pajajaran , Sri Baduga Maharaja yang akan meningkahkan putrinya, Dyah Pitaloka dengan Hayam Wuruk. Namun dalam perjalanan menuju Majapahit, yakni di Bubat terjadi perbedaan pendapat dengan pihak Kerajaan Majapahit. Kerajaan Pajajaran kalah

Candi peninggalan Majapahit

  • Candi Rimbi
  • Candi Bajang Ratu
  • Candi Sumber Awan
  • Candi Panataran
  • Candi Tigawangi
  • Candi Sukuh
  • Candi Cetho
  • Candi Jabung
Candi Penataran

Candi Penataran

Karya sastra pada masa Kerajaan Majapahit

Pada masa Majapahit bidang seni budaya berkembang pesat, terutama seni sastra. Karya seni sastra yang dihasilkan pada masa Majapahit, antara lain sebagai berikut.

  • Kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca pada tahun 1365. Isinya menceritakan hal-hal sebagai berikut. a) Sejarah raja-raja Singasari dan Majapahit dengan masa pemerintahannya. b) Keadaan kota Majapahit dan daerah-daerah kekuasaannya. c) Kisah perjalanan Raja Hayam Wuruk ketika berkunjung ke daerah kekuasaannya di Jawa Timur beserta daftar candi-candi yang ada. d) Kehidupan keagamaan dengan upacara-upacara sakralnya, misalnya upacara Srrada untuk menghormati roh Gayatri dan menambah kesaktian raja.
  • Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular. Kitab tersebut berisi riwayat Sutasoma, seorang anak raja yang menjadi pendeta Buddha.
  • Kitab Arjunawijaya karangan Empu Tantular. Kitab tersebut berisi tentang riwayat raja raksasa yang berhasil ditundukkan oleh Raja Arjunasasrabahu.
  • Kitab Kunjarakarna dan Parthayajna, tidak jelas siapa pengarangnya. Kitab itu berisi kisah raksasa Kunjarakarna yang ingin menjadi manusia, dan pengembaraan Pandawa di hutan karena kalah bermain dadu dengan Kurawa

Sebab runtuhnya kerajaan Majapahit

  1. Terjadinya Perang Paregreg[3]
  2. Tidak adanya pengganti yang sepadan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada
  3. Banyak kerajaan bawahan yang melepaskan diri
  4. Masuk dan berkembangnya Islam
  5. Kemunduran dalam perdagangan yang disebabkan oleh tidak mampunya Kerajaan menjamin keamanan

Sumber:

Tarunasena. 2009. Sejarah2 : SMA/MA untuk kelas XI Semester 1 dan 2 Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Sh. Musthofa, Suryandari, Tutik Mulyati. 2009. Sejarah 2 : Untuk SMA/MA Kelas XI Program Bahasa. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan nasional

Habib Mustopo dkk. 2002.  Sejarah 2 SMA Kelas XI Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta : Yudhistira.

[1] Anusapati merupakan anak tiri dari Ken Arok. Anusapati merupakan keturunan dari Ken Dedes dengan penguasa Tumapel yakni Tunggul Ametung. Tunggul Ametung dibunuh oleh Ken Arok dengan menggunakan Keris Mpu Gandring. Setelah itu Ken Arok menjadi penguasa Tumapel sekaligus menjadikan Ken Dedes sebagai istrinya.

[2] Raden Wijaya merupakan menantu dari Raja Kertanegara dan cucu Mahisa Cempaka. Raden Wijaya menikahi 4 anak dari Kertanegara yaitu Tribuwanaswari (sebagai permaisuri), Gayatri, Prajnaparamita, dan Narendraduhita. Dari Tribuana, ia mempunyai seorang putra yang bernama Jayanegara, sedangkan dari Gayatri, Raden Wijaya mempunyai dua orang putri, yaitu Tribuanatunggadewi dan Rajadewi Maharajasa. Raden Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309 yang kemudian dimakamkan dan dicandikan di Candi Simping sebagai Harihara yakni perpaduan antara Wisnu dengan Siwa.

[3] Perang Paregreg adalah perang saudara antara Wikrawardhana yang merupakan menantu dari Raja Hayam Wuruk dengan Bhre Wirabumi anak dari selir Hayam Wuruk. Perang Paregreg membuat kerajaan Majapahit mengelami kemunduran.

Please follow and like us:
0

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *