Hijrah

HijrahAku nggak sampai hati untuk bisa membayangkan bagaimana beratnya orang yang hijrah, Yanindra. Sulit untuk hijrah dari satu tempat yang lama kita tinggali, menuju suatu tempat yang baru. Banyak kenangan yang tertinggal dan mungkin tidak bisa dibawa. Kenangan di mana kita pernah berada di pinggir jalan tertepa derasnya hujan, ku pinjamkan jaketku agar membuat badanmu tidak terkena butiran-butiran air yang lambat laun semakin deras. Kenangan yang mana kita pernah bersama menghabiskan siang hari berdua bercerita tentang hidupku dan hidupmu. Itu lho Yanindra, wanita yang kekenal beberapa tahun yang lalu, ketika itu aku hendak memancing di tepian Bengawan Solo.

Kamu mesti pernah mendengar kata hijrah kan Yanindra???

Wanita yang ku jumpai beberapa tahun yang lalu, kini sudah tidak sama dengan yang dulu, Yanindra. Dulu wanita itu bisa tersenyum lepas denganku mentertawakan kebegundalanku, Orang tidak perlu menghinaku, karena aku sudah mampu untuk menghina diriku sendiri. Kebanyakan orang hanya bisa menghina orang lain, dan saat dihina, ia tidak siap akan menimbulkan sakit hati. Sekarang wanita itu hanya bisa tersenyum getir. Ada satu belenggu yang membuatnya sudah tidak bebas seperti yang dulu lagi. Kebebasannya sudah terkekang dengan statusnya, kini ia sudah memiliki tambatan hati, Yanindra. wanita tersebut sudah melakukan hijrah yang mana dulu ia masih sendiri, kini ia sudah memiliki suami. Dulu ia masih bebas, sekarang sudah terikat dengan ikatan suci yang dinamakan pernikahan.

Dan kini pun aku sudah hijrah, meninggalkan kebiasaan lamaku untuk berolahraga pagi. Aku sudah tidak bisa seperti yang dulu, ketika pagi melakukan lari pagi sambil menggoda beberapa mbak-mbak gemes. Pagiku sekarang sudah disibukkan dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Pagi sampai petang hari aku harus berkutat dengan dunia pendidikan. Aku harus berkutat dengan memberikan mata pelajaran sejarah kepada anak didikku, dan juga memberikan nilai-nilai kehidupan agar mereka bisa menjadi manusia yang bijaksana. Itu adalah hakekatnya belajar sejarah, make a man wisdom.

Sejarah sudah mencatat beberapa kisah hebat tentang peristiwa hijrah. Sebagai orang yang beragama Islam tentu kamu akrab sekali dengan istilah hijrah atau lebih familiar dengan kata hijiriah. Yang pertama tadi adalah peristiwa pindahnya umat Islam dari Mekah menuju Madinah, sedangkan yang kedua merupakan penanggalan dalam agama Islam. Aku yakin banyak orang yang tidak tahu sejarah agamanya, Yanindra. Anggapan mereka selama ini belajar sejarah hanya berkutat pada masa lalu padahal yang lalu biarlah berlalu. Seharusnya mereka harus hijrah pikiran, Yanindra. Buang stigma itu dan ganti dengan stigma yang baru bahwa belajar sejarah itu menjadikan kita bijaksana.

Orang-orang Islam itu biasanya tidak tahu menahu tentang sejarah leluhurnya, para nabi yang menyebarkan agama Islam. Para nabi yang melakukan hijrah dari zaman kegelapan menuju zaman terang benderang. Mereka hanya melakukan rutinitas sehari-hari, paling sholat, zakat, puasa dan ibadah lain sebagainya. Mereka lupa untuk belajar lebih dalam, bukan hanya rutinitas belaka melainkan esensi makna yang sebenarnya dibalik ibadah. Kita harus mulai hijrah, Yanindra, terbukalah untuk hal-hal yang baru. Jangan tutup dirimu, Yanindra.

Selain nabi, ternyata di daratan Cina juga ada kisah heroic tentang hijrah. Kemarin sudah aku ceritakan kepada mu Yanindra, mengenai perjalanan panjang Mao Tse Tung bersama pengikutnya untuk menjauh dari kejaran orang-orang nasionalis yang ingin membunuh kaum komunis. Perjalanan yang maha berat dan harus mengorbankan harta benda bahkan hingga nyawa. Memang hijrah membutuhkan konsekuensi yang tinggi bagi yang melakukannya.

Nggak usah jauh-jauh menuju daratan Arab dan Cina, Yanindra. Di tanah ibu pertiwi ini juga terjadi kisah yang memilukan tentang hijrah. Tepatnya setelah ditandatangani perjanjian Renville, yang salah satu isinya adalah tentara Indonesia harus hijrah menuju wilayah yang dikuasai Indonesia. Dengan kata lain, tentara Indonesia harus meninggalkan tempat yang diduduki oleh Belanda menuju wilayah Indonesia yang pada saat itu hanya meliputi wilayah Yogya dan sekitarnya.

Saat hijrah mereka harus membawa anak dan istri mereka. Menempuh jalan yang berpuluh-puluh kilometer. Ketika siang hari teramat panas dan malam hari teramat dingin. Jalan yang dipenuhi dengan semak belukar dan hewa-hewan liar. Kalau dijalan bertemu dengan tentara Belanda, meraka akan tunggang langgang mencari tempat yang aman. Mereka sudah tidak memikirkan lagi harta yang mereka tinggalkan. Mereka sudah berpasrah diri untuk mengabdikan hidupnya demi Ibu pertiwi. Terkadang mereka harus kehilangan orang yagn tersayang dalam waktu hijrah. Dan tak jarang nyawa merekalah menjadi taruhannya.

Kalau hijrah zaman sekarang sudah berbeda dengan zaman dahulu, Yanindra. Sekarang sudah tidak ada lagi penjajahan colonial. Negara kita sudah merdeka, berarti nggak perlu hijrah. Nggak seperti itu, Yanindra, kalau hijrah diartikan perpindahan menuju kebaikan, saat ini sangat membutuhkan itu, Yanindra. Sudah saatnya kita berhijrah dari kemiskinan menjadi masyarakat yang sejahtera. Sudah saatnya kita melakukan hijrah dari zaman kebodohan dan menjadi manusia yang berakarakter kuat dan beraklhak mulia. Sudah saatnya kita hijrah, Yanindra.

Kalau hijrah dari satu hati ke hati yang lain, itu kan yang dulu kamu lakukan Yanindra??? hohoho

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *