Peninggalan Sejarah bercorak Hindu-Budha di Indonesia

jalur perdaganganAgama Hindu dan budha masuk di Indonesia dikarenakan adanya perdagangan pada saat itu. Indonesia memiliki letak yang strategis yakni sebagai penghubung antara India dengan Cina. Para pedagang dari India maupun Cina singgah di Indonesia. Hal ini dikarenakan pada masa itu sistem pelayaran masih sederhana yakni dengan menggunkan angin muson. Pada saat peringgahan tersebutlah terjadi interaksi antara kebudayaan asli Indonesia dengan kebudayaan yang dibawa oleh para pedagang dari India maupun Cina.

Peninggalan bercorak hindu – budha di Indonesia antara lain:

Prasasti

Prasasti adalah piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama. Penemuan prasasti pada sejumlah situs arkeologi, menandai akhir dari zaman prasejarah. prasasti dianggap sumber terpenting karena mampu memberikan kronologis suatu peristiwa. Ada banyak hal yang membuat suatu prasasti sangat menguntungkan dunia penelitian masa lampau. Selain mengandung unsur penanggalan, prasasti juga mengungkap sejumlah nama dan alasan mengapa prasasti tersebut dikeluarkan.

Prasasti Kerajaan Kutai (Kalimantan Timur)

Diketemukan Yupa yang bertuliskan huruf Pallawa berbahasa Sanskerta dan prasasti Muara Kaman. Merupakan penemuan huruf pertama di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa bangsa Indonesia sudah meninggalkan zaman pra-aksara. Prasasti Yupa bercerita mengenai raja-raja dari Kerajaan Kutai.

Prasasti Kerajaan Tarumanegara

  • Prasasti Ciaruteun, ditemukan di wilayah Bogor, Jawa Barat.
  • Prasasti Kebun Kopi, ditemukan di wilayah Bogor, Jawa Barat.
  • Prasasti Jambu, ditemukan di wilayah Bogor, Jawa Barat.
  • Prasasti Pasir Awi, ditemukan di wilayah Bogor, Jawa Barat.
  • Prasasti Muara Cianten, ditemukan di wilayah Bogor, Jawa Barat.
  • Prasasti Tugu, ditemukan di Desa Tugu, Cilincing, Jakarta Utara.
  • Prasasti Lebak, ditemukan di Desa Lebak, Banten Selatan.

Prasasti Kerajaan Mataram Kuno

  • Prasasti pada masa dinasti Sanjaya : Prasasti Canggal, Prasasti Balitung/prasasti Kedu/prasasti Mantyasih.
  • Prasasti pada masa Dinasti Syailendra : prasasti Kalasan, prasasti Kelurak, prasasti Ratu Boko, prasasti Nalanda.

Prasasti Kerajaan Kediri

Prasasti sirah keting, prasasti Ngantang, prasasti Jaring, prasasti Kamulan.

Prasasti Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Kedukan Bukitr, prasasti Kota Kapur, prasasti Karang Berahi, prasasti Telaga Batu, prasasti Talang Tuo, prasasti Palas Pasemah, prasasti Ligor

Prasasti Kerajaan Majapahit

Prasasti Butak, prasasti ini memuat peristiwa runtuhnya Kerajaan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya untuk mendirikan Kerajaan Majapahit.

Candi

candi prambananCandi adalah bangunan yang dibuat dengan tujuan untuk memulyakan seseorang yang telah mati yang berasal dari keluarga raja atau orang terkemuka. Bangunan candi terdiri dari ; kaki candi, tubuh candi, dan atap candi. Di Jawa candi di kelompokan menjadi tiga yakni Candi Jawa Tengah bagian utara, Candi Jawa tengah bagian selatan dan Candi Jawa Timur. Candi yang bercorak Hindu di Jawa Tengah diantaranya : Candi Lorojongrang (Candi Prambanan), Candi Dieng, Candi Gunung Wukir, Candi Gedung Songo. Jenis candi yang bercorak Hindu-Budha di Jawa Timur diantaranya; Candi Panataran, Candi Kidal, Candi Singosari, dsb.

Patung (Arca)

arcaPatung atau arca adalah benda yang terbuat dari batu yang dipahat menyerupai seorang manusia atau binatang. Contohnya : Arca Perunggu Siwa Mahadewa, Arca Batu Wisnu, Arca Batu Brahma, dll. Khusus patung berupa manusia, tujuan pembuatannya adalah mengabadikan tokoh tertentu. Patung peninggalan itu juga dibuat berdasarkan peninggalan agama Hindu dan agama Budha. Patung dalam agama Hindu dapat dibedakan menjadi patung dewa-dewi, tokoh, dan makhluk mistik sedangkan dalam agama budha diwujudkan sebagai sang Budha Gautama sendiri yang tampil dalam berbagai posisi.

Demikian juga dalam hasil seni pahat sebagai pengisis bidang pada dinding candi yang melukiskan suatu cerita atau kisah, sering disebutnya dengan relief. Contohnya; relief yang terdapat pada candi prambanan, terdapat cerita ramayana yang dipahatkan pada pagar langkah Candi Siwa diteruskan pada pagar langkah Candi Brahma. Demikian halnya Candi Borobudur ada Karmawibbhangga, Lalitavistara, jatakamala-Awadana, dan Gandawyuha-Bhadracari.

Seni Ukir

Hasil seni ukir atau seni pahat dapat kita jumpai sebagai hiasan pada dinding-dnding candi, seperti pada candi Borobudur, Candi Lorojongrang dan Candi Prambanan.

Kesusastraan

Hasil karya sastra yang terkenal misalnya : Arjuna Wihaha karya Mpu Kanwa, Negara Kertagama karya Mpu Prapanca, Sutasoma karya Mpu Tantular dan Paraton yang tidak diketahui penulisnya.

Ada beberapa kerajaan yang meninggalkan karya sastra antara lain sebagai berikut.

Kerajaan Medang

  • Kitab Hukum Siwasana (masa Dharmawangsa).
  • Kitab Sang Hyang Kamahayanikan (Kerajaan Mataram/Budha).

Kerajaan Kediri

  • Kitab Kresnayana karya Mpu Triguna.
  • Kitab Bharatayuda karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, ditulis pada masa pemerintahan Jayabaya.
  • Kitab Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, ditulis pada masa Airlangga.
  • Kitab Hariwangsa dan kitab Gatotkacasraya, karya Mpu Panuluh ditulis masa pemerintahan Jayabaya. Dalam kitab Gatotkacasraya inilah dijumpai adanya Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong).
  • Kitab Smaradhahana, karya Mpu Darmaja, ditulis masa pemerintahan Raja Kameswara.
  • Kitab Lubdaka dan kitab Wertasancaya, karya Mpu Tan Akung, ditulis masa Kameswara.

Kerajaan Majapahit

  • Kitab Negarakertagama, karya Mpu Prapanca. .
  • Kitab Sutasoma, karya Mpu Tantular. Dalam kitab inilah terdapat kata Bhinneka Tunggal Ika, yang kemudian menjadi semboyan persatuan kita.
  • Kitab Arjunawijaya, karya Mpu Tantular.
  • Kitab Kutaramanawa, karya Gajah Mada. Kitab ini merupakan kitab mengenai hukum.
  • Kitab Kunjarakarna dan kitab Parthayajna, keduanya tidak diketahui pengarangnya.
  • Kitab Sundayana, menceritakan peristiwa Bubat.
  • Kitab Ranggalawe, menceritakan pemberontakan Ranggalawe.
  • Kitab Pararaton, menceritakan riwayat raja-raja Singasari dan Majapahit.

Bahasa dan Tulisan

Peninggalan-peninggalan dari masa kerajaan-kerajaan Hindu-Budha menggunakan bahasa Sangsekerta dengan tulisan huruf Pallawa, seperti yang tertulis pada prasasti-prasasti. Penggunaan bahasa Sangsekerta contohnya ; Pancasila, Saptamarga, dll.

2 Comments
  1. Avatar
  2. Avatar

Tinggalkan Balasan ke Naufal Ariandi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *