Peredaan Ketegangan Perang Dingin

tembok-berlinParang Dingin (Cold War) merupakan perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet untuk menguasai hegemoni dunia. Perang dingin antara blok barat dan blok timur telah menyengsarakan masyarakat dunia. Seluruh dunia khawatir terjadinya perang terbuka yang menggunakan senjata nuklir. Pertikaian kedua pihak mencapai puncak tahun 1960an dengan adanya Krisis Cuba, yaitu kondisi dimana Amerika Serikat dan Uni Sovyet berhadapan secara langsung dengan senjata nuklir.

Politik luar negeri Amerika Serikat dicela oleh banyak negara dunia ketiga. Dalam Perang Vietnam, campur tangan Amerika Serikat mendapat reaksi keras baik dari dalam maupun luar negeri. Apalagi perang berakhir dengan kekalahan Amerika Serikat. Perang Teluk I (Iraq – Iran) pada bulan September 1980 makin hangat dengan kehadiran militer Amerika Serikat. Pada tahun 1985, bantuan militer Amerika Serikat kepada gerilyawan di Nicaragua mendapat kritikan keras dari berbagai negara. Selama kurun waktu 1987 – 1989 kebijaksanaan luar negeri Amerika Serikat lebih ditekankan pada upaya peredaan ketegangan Timur – Barat, penyelesaian masalah Iran Contra dan Perang Teluk I.

Setelah lebih dari  dua dasawarsa dalam perang dingin, maka kedua belah pihak berupaya mengadakan pengurangan ketegangan, bahkan penghentian ketegangan. Pada tahun 1970an, kedua negara yang bersaing sudah memasuki situasi detente. Upaya mengurangi ketegangan didasarkan pada gagasan koeksistensi damai (peaceful coexistence). Gagasan yang mengembangkan hidup berdampingan secara damai dengan tujuan untuk menghindari terjadinya perang nuklir.

Upaya peredaan perang dingin telah dilakukan baik kedua pihak maupun berbagai organisasi dunia. Periode peredaan perang dingin dapat ditentukan dengan perubahan strategi dan taktik nasional.

Perubahan strategi dan taktik nasional

Memasuki tahun 1970an, Amerika Serikat terlibat dalam perang Vietnam yang banyak menguras biaya dan tenaga semua pihak. Korban di pihak AS tidak terhitung banyaknya, namun hasil yang diperoleh tidak sebanding. Bahkan perang berakhir dengan jatuhnya seluruh Vietnam ke tangan kaum komunis. Hal ini berarti kekalahan besar AS di Asia Tenggara.

Upaya dari koeksistensi damai, timbul sejalan dengan memanasnya hubungan Uni Sovyet dengan RR Cina. AS melalui Henry Kissinger, berupaya mendekatkan kembali kedua negara tersebut dengan rangkaian kunjungannya tahun 1971. Presiden Richard Nixon mengadakan rangkaian kunjungan ke Beijing (Pebruari 1972) dan Moskow (Mei 1972). Perubahan pola politik luar negeri AS ini dipandang sebagai perubahan strategi politik pembendungan (ingat teori domino) ke arah koeksistensi damai.

Kebijakan tersebut dilanjutkan pada masa penerintahan Jimmy Carter. Namun demikian, ketegangan muncul kembali ketika Uni Sovyet melakukan invasi ke Afghanistan tahun 1979. Timbul konflik dalam waktu lama di kawasan Afghanistan. Suasana perang dingin timbul kembali, AS mempersenjatai kaum gerilyawan Afghanistan. Uni Sovyet yang mendirikan pemerintahan boneka dibawah Babrak Kamal, ternyata tidak mampu menundukkan kaum gerilyawan (Mujahiddin). Dengan adanya kecaman dunia internasional dan untuk menghindari kekalahan yang besar, maka pasukan Uni Sovyet mulai ditarik mundur dari Afghanistan sejak tahun 1982. Rupanya Uni Sovyet telah belajar dari pengalaman keterlibatan AS dalam perang Vietnam.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *