Landasan Psikologi Kurikulum

kurikulumKurikulum merupakan alat yang penting dalam merealisasikan program pendidikan. Dalam proses pengembangan kurikulum, pertumbuhan dan perkembangan siswa perlu diperhatikan. Pertumbuhan berkenaan dengan jasmaniah, dan perkembangan bekenaan dengan rohaniah. Proses belajar di lingkungan sekolah terjadi interaksi antar individu, peserta didik dan pendidik, sesama peserta didik, dan orang-orang yang lain. setiap peserta didik memiliki kondisi psikologis yang berbeda. Kondisi psikologis merupakan karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk perilaku dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Tugas pendidik yaitu membantu perkembangan peserta didik secara optimal. Pendidik berupaya untuk menciptakan berbagai kegiatan dengan alat bantu pengajaran agar peserta didik belajar.

Dalam kajian psikologis yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan membahas perkembangan individu. Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan individu yaitu pendekatan pentahapan (perkembangan induvudi berjalan melalui tahap-tahap perkembangan), pendekatan diferensial (individu memiliki persamaan dan perbedaan), dan pendekatan isaptif (melihat karakteristik individu).

Pendekatan pentahapan bersifat menyeluruh mencakup perkembangan fisik, gerakan motorik, sosial, intelektual, moral, dan juga hanya mendeskripsikan salah satu segi atau aspek perkembangan saja. Salah satu pendekatan pentahapan menyeluruh yaitu seperti yang diungkapkan oleh Stanley Hall. Hall membagi perkembangan anak menjadi empat tahap: masa kanak-kanak (usia 0-4 tahun), masa anak (usia 4-8 tahun), masa puer (usia 8-12 tahun), dan masa remaja (usia 12/13 tahun – dewasa) (Syaodih, 2012: 48-49).

Psikologi belajar membahas mengenai bagaimana individu belajar. Segala perubahan tingkah laku baik berbentuk kognitif, afektif, maupun psikomotor dan terjadi karena proses pengalaman dapat dikatakan sebagai perilaku belajar. Berdasarkan teori disiplin mental theistik dari Psikologi Daya, anak mempunyai sejumlah daya mental untuk emngamati, meannggapi, mengingat, berfikir, dan sebagainya. Penekanan bukan terletak pada materinya, namun peran mata pelajaran guna membentuk daya-daya tersebut (Hamalik, 2011: 107).

Perencanaan kurikulum harus bersifat fleksibel dan menyediakan suatu program yang luas guna pengembangan pengalaman belajar, harus dikembangkan dengan memberikan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan penyesuaian diri dan pengembangan pribadi, dan memperhatikan kesiapan sisiwa. Kurikulum harusnya cocok dan serasi untuk memeberikan kesempatan kepada siswa tumbuh dan berkembang secara seimbang, harmonis, dan menyeluruh baik jasmani maupun rohani. Keberhasilan menyelesaikan tugas perkembangan merupakan acuan keberhasilan mengerjakan tugas masa mendatang. Oleh sebab itu dalam penyusunan kurikulum, tugas-tugas yang muncul dalam setiap tingkatan perkembangan sisiwa perlu diperhatikan, terutama dalam penentuan isi dan materi.

Daftar Pustaka

Hamalik, Oemar. 2011. Dasar- Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Syaodih S, Nana. 2012. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Please follow and like us:
0

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *