Kasihani???

kasihanKamu kemana saja, Yanindra??? Sudah lama tidak ada kabar tentang dirimu. Setiap waktu aku menunggu hadirnya pesan darimu, tapi itu hanya impian yang tak kunjung menjadi nyata. Aku mencoba menghubungi mu, tapi nomormu tidak aktif. Hilangnya kabar darimu itu membuatku menjadi tidak menentu, Yanindra. Aku bingung harus bagaimana, memilih setuju apa yang dilakukan oleh Satpol PP atau ikut mengumpulkan uang untuk seorang ibu yang siang hari tetap memaksa berjualan. Kebingunganku semakin bertambah dengan perbedaan pandangan antara apa yang dikatakan BPK dengan apa yang diungkapkan oleh KPK mengenai rumah sakit sumber waras.

Aku ikut-ikutan menjadi tidak waras, Yanindra

Mbok yao beri aku kabar, sekali sms saja itu sudah membuat aku bahagia. Jangan kau biarkan aku selalu menunggu dan menunggu kabar darimu. Apa kamu tidak kasihan dengan ku yang selalu menunggu dan terus mengunggu???

Sebenarnya aku juga kasihan sih sama ibu-ibu yang kena razia satpol PP itu, dimana barang-barang jualannya disita oleh aparat. Apalagi nanti kalau ibu itu merupakan tulang punggung keluarga. Kasihan dengan suami dan anak-anaknya nanti, tidak bisa berlebaran dengan memakai baju baru. Tapi mau apa dikata, para aparat itu hanya menegakkan peraturan yang ada. Ibu-ibu itu memang melanggar peraturan daerah yang mengatur mengenai pelarangan berdagang disiang hari pada bulan ramadhan.

Yang membuatku semakin sedih adalah tanggapan lebay dari berbagai pihak, Yanindra. Mereka menghujat para aparat yang melakukan penyitaan terhadap barang dagangan. Para aparat seharusnya tidak sekasar itu dalam menjalankan tugasnya. Mereka harus bisa memanusiakan manusia. Seharusnya aparat penegak hukum itu tidak melulu didominasi oleh pria-pria kekar, melainkan mbak-mbak gemes yang lemah lembut, penyabar, akan tetapi tegas.

Reaksi lebay juga datang dari penggiat hak asasi manusia. Katanya pelarangan orang untuk mencari nafkah yang halal dengan cara berdagang itu melanggar hak asasi manusia. Pelarangan berdagang makanan disiang pada bulan Ramadhan hari itu merupakan tindakan intoleransi antar umat beragama. Meraka menyatakan bahwa negara melindungi kebebasan warga negara untuk memeluk agama dan kepercayaan masing-masing. Mereka juga berpendapat bahwa dengan dibukanya warung makanan disiang hari itu tidak akan membatalkan puasa kalau tidak ada yang beli. Kasihan orang penganut agama lain yang bingung mencari makanan disiang hari di bulan Ramadhan.

Mereka benar-benar lebay, Yanindra

Peraturan itu kan hanya disatu daerah, bukan di seluruh Indonesia. Kita seharusnya bisa menghormati apa yang diterapkan disana. Hal tersebut merupakan wujud dari kebhinekaan. Aturan berdagang disiang hari di kota tersebut kan bukan baru tahun ini, melainkan sudah diterapkan beberapa tahun sebelumnya. Kalau memang sudah disosialisaikan hal tersebut, maka orang-orang yang tahu mesti tidak berdagang disiang hari. Orang-orang yang tidak berpuasa pasti juga tahu bahwa tidak ada pedagang makanan yang berjualan disiang pada bulan Ramadhan. Meraka yang tahu hal itu mesti akan menghormati keputusan yang ada. Inilah yang dimaksud saling toleransi antar umat beragama.

Kamu tidak perlu mengasihani ibu-ibu itu lagi, Yanindra

Yang perlu kamu kasihani adalah aku, yang mulai lelah mengunggu kabar darimu.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *