Manfaat Pembelajaran Sejarah

buku_sejarah_XII_kurikulum_2013Pada kenyataan selama ini mata pelajaran sejarah adalah mata pelajaran yang kurang diminati siswa. Beberapa hal yang membuat hal itu terjadi adalah dari materi dan penyampaian guru. Materi sejarah dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas hanya diulang-ulang sehingga membuat siswa bosan dengan materi yang sama (Hamid, 2014: 39).

Pembelajaran sejarah semakin membosankan dengan cara penyampaian materi yang dilakukan oleh guru cenderung monoton sehingga membuat siswa kurang tertarik dengan mata pelejaran sejarah. Para guru hanya mengajarkan isi bukan sikap dan keterampilan dari belajar sejarah (Wineburg, 2006: xxii).

Pada hakikatnya manfaat sejarah sangat besar dalam kehidupan. Pemerintah Indonesia mulai menyadari hal tersebut, oleh karena itu dalam Kurikulum 2013 mata pelajaran mendapatkan peningkatan jam yang signifikan. Pada kurikulum sebelumnya, mata pelajaran sejarah untuk tingkat SMA jurusan IPA hanya satu jam perminggu, sedangkan untuk SMA jurusan IPS ada 3 jam per minggu. Pada tingkat SMK malah tidak ada mata pelajaran sejarah tersendiri melainkan terintegrasi dengan mata pelajaran IPS dengan 2 jam per minggu.

Pada Kurikulum 2013 mengalami peningkatan jam yang signifikan. Pada tingkat SMA terdapat 2 kelompok mata pelajaran sejarah yaitu sejarah peminatan, 3 jam per minggu dan sejarah wajib yaitu Sejarah Indonesia yang diberikan sebanyak 2 jam per minggu. Pembelajaran sejarah menjadi salah satu mata pelajaran wajib yang harus disampaikan di sekolah.

Mata pelajaran sejarah saat ini bukan lagi pelajaran minoritas melainkan mata pelajaran yang utama. Salah satu manfaat belajar sejarah adalah adanya kesadaran kebangsaan, terutama untuk Sejarah Indonesia yang khusus mengkaji seluk beluk kehidupan bangsa Indonesia. Menurut Suyatno Kartodirdjo (1989: 1-7), kesadaran sejarah pada manusia sangat penting artinya bagi pembinaan budaya bangsa.

Di sini, kesadaran sejarah amat esensial bagi pembentukan kepribadian. Analog dengan sosiogenesis individu, kepribadian bangsa juga secara inhern memuat kesadaran sejarah itu. Implikasi hal tersebut di atas bagi national building ialah tidak lain bahwa sejarah dan pendidikan memiliki hubungan yang erat dalam proses pembentukan kesadaran sejarah. Dalam rangka nation building pembentukan solidaritas, inspirasi dan aspirasi mengambil peranan yang penting. Tanpa kesadaran sejarah, kedua fungsi tersebut sulit kiranya untuk dipacu, dengan perkataan lain semangat nasionalisme tidak dapat ditumbuhkan tanpa kesadaran sejarah (Kartodirdjo, 1993: 53).Sejarah adalah dasar bagi terbinanya identitas nasional yang merupakan salah satu modal utama dalam membangun bangsa masa kini maupun masa yanga akan datang (Widja, 2002: 7).

Kajian sejarah akan berkontribusi terhadap pengembangan pribadi siswa agar tumbuh harmonis dan seimbang melalui sajian peristiwa yang naratif (mengandung unsur humaniora), sekaligus membentuk kognisi siswa dengan unsur science, dengan metodologi yang bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, sudah saatnya para pendidik yang masih mengunakan strategi pembelajaran konvensional yang menjemukan para siswa mulai menerapkan pembelajaran yang inovatif.

Model pembelajaran yang inovatif dimaksudkan untuk menghasilkan para siswa yang dapat berpikir kritis dan analitis dalam memahami masa lalu bangsanya sehingga bisa diambil pelajaran untuk menghadapi kehidupan saat ini dan mereflesikannya di masa yang akan datang. Melalui ketrampilan berpikir yang menyejarah, diharapkan para siswa memiliki visi yang jauh melampaui batas geografis lokal dan nasional, dengan pemahamannya terhadap tiga dimensi waktu serta unsur spasial sebagai panggung peristiwa.

Menurut Nugroho Notosusanto (1979: 3-5) setidak-tidaknya ada empat kegunaan dalam mempelajari sejarah, yaitu: 1) Kegunaan rekreatif; 2) Kegunaaninspiratif; 3) Fungsi instruktif, dan 4) Fungsi edukatif. Mata pelajaran sejarah memiliki arti strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Secara substantif, materi sejarah:

  • Mengandung nilai-nilai kepahlawanan, keteladanan, kepelaporan, patriotisme, nasionalisme, dan semangat pantang menyerah yang mendasari proses pembentukan watak dan kepribadian peserta didik.
  • Memuat khasanah mengenai peradaban bangsa-bangsa, termasuk peradaban bangsa Indonesia.
  • Menanamkan kesadaran persatuan dan persaudaraan serta solidaritas untuk menjadi perekat bangsa dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa.
  • Sarat dengan ajaran moral dan kearifan yang berguna dalam mengatasi krisis multidimensional yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
  • Berguna menanamkan dan mengembangkan sikap bertanggungjawab dalam memelihara keseimbangan sikap bertanggungjawab dalam memelihara keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup (Aman, 2011: 57).

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *