Sejarah Lisan di Indonesia

Cerita Rakyat NusantaraZaman pra-aksara adalah zaman ketika manusia belum mengenal tulisan. Oleh karena itu untuk mengetahui jejak masyarakat pada zaman pra-aksara tidak bisa menggunakan sumber tulisan melainkan sumber sejarang yang berupa lisan. Biasanya dalam satu masyarakat terdapat cerita turun temurun yang diwariskan oleh para pendahulu. Ada beberapa hal yang bisa membantu untuk menemukan jejak-jejak sejarah yang terjadi pada masa lampau, antara lain : folklore, mitos, legenda, upacara dan lagu daerah dari berbagai daerah di Indonesia.

Folklore, yaitu adat-istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun menurun tetapi tidak dibukukan. Folklore dibedakan menjadi dua yaitu :

  1. Folklore lisan yaitu folklore yang diciptakan, disebarluaskan dan diwariskan dalam bentuk lisan seperti bahasa,teka-teki, puisi rakyat dsb.
  2. Folklor sebagian lisan yaitu folklore yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan. Seperti : kepercayaan rakyat, tarian rakyat, pesta rakyat, dsb.
  3. Folklor nonlisan yaitu folklor yang bentuknya bukan lisan walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Seperti : arsitektur rakyat, kerajinan tangan, pakain dan perhiasan tradisional, obat-obatan tradisional, dsb.

Mitos adalah ilmu kesustraan yang mengandung konsep tentang dongeng suci, kehidupan para dewa dan makhluk halus dalam suatu kebudayaan. Cerita-cerita yang terkandung dalam mite bukanlah sejarah tetapi di dalamnya terdapat unsur-unsur sejarahnya.. Contoh mite:

  1. Dewi Sri dari Jawa Tengah dan Bali, kalau di Jawa Barat (sunda) digunakan nama Nyi Pohaci sebagai dewi kesuburan
  2. Nyai Roro Kidul Laut Selatan dari Yogyakarta

Legenda adalah sebuah cerita rakyat pada masa lampau yang masih memiliki hubungan dengan peristiwa-peristiwa sejarah atau dengan dongeng-dongeng seperti cerita tentang terbentuknya suatu negeri, gunung dsb.

  1. Legenda bersifat sekuler (keduniawian) terjadi pada masa yang belum begitu lampau dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang.
  2. Legenda ditokohi oleh manusia, meskipun ada kalanya mempunyai sifat luar biasa, dan seringkali dibantu mahkluk-mahkluk gaib.
  3. Legenda sering dianggap sebagai “sejarah” kolektif (folk history). Meskipun dianggap sebagai sejarah tetapi kisahnya tidak tertulis maka legenda dapat mengalami distorsi sehingga seringkali dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya.
  4. Untuk menjadikan legenda sebagai sumber sejarah maka harus menghilangkan bagian-bagian yang menagndung sifat-sifat folklor, seperti bersifat pralogis (tidak termasuk dalam logika) dan rumus-rumus tradisi.
  5. Legenda diwariskan secara turun temurun, biasanya berisi petuah atau petunjuk mengenai yang benar dan yang salah. Dalam legenda dimunculkan pula berbagai sifat dan karakter manusia dalam menjalani kehidupannya yaitu sifat yang baik dan yang buruk, sifat yang benar dan yang salah untuk selanjutnya dijadikan pedoman bagi generasi selanjutnya.

Contoh Legenda: Legenda Sunan Bonang, Tangkuban Perahu (Sangkuriang) dari Jawa Barat, Putmaraga dari Banjarmasin (Kalimantan), Pinisi (Sawerigading) dari Sulawesi, Hang Tuah dari Aceh.

Lagu-lagu Daerah

Lagu adalah syair-syair yang ditembangkan dengan irama yang menarik. Lagu daerah adalah lagu yang menggunakan bahasa daerah. Setiap daerah memiliki lagu daerah sendiri-sendiri, misalnya soleram (Riau), sue ora jamu, bengawan solo (Jawa), potong bebek (NTT).

Upacara

Upacara merupakan rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada aturan-aturan tertentu (adat istiadat, agama, dan kepercayaan). Contoh: Upacara penguburan, mendirikan rumah, membuat perahu, upacara memulai perburuan, dan upacara perkabungan, upacara pengukuhan kepala suku, upacara sebelum berperang. Fungsi Upacara:

  1. Upacara adat biasanya dilakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih pada kekuatan-kekuatan yang dianggap memberikan perlindungan dan kesejahteraan pada mereka. Upacara tersebut juga dimaksudkan untuk menghindarkan diri dari kemarahan kekuatan-kekuatan gaib yang seringkali diwujudkan dalam berbagai malapetaka dan bencana alam. Biasanya terkait dengan legenda yang berkembang di masyarakat tentang asal usul mereka.
  2. Sebagai alat legitimasi tentang keberadaan mereka seperti tertuang dalam cerita rakyat. Contoh: Upacara “Kasodo” oleh masyarakat Tengger di Sekitar Gunung Bromo.
No Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *