Sejarah sebagai Ilmu

sejarah-sebagai-ilmuBerbagai definisi dibuat oleh berbagai tokoh dalam mengartikan sejarah. Berbagai definisi yang diambil dari berbagi sudut pandang kemudian memunculkan berbagai perbedaan definisi tentang sejarah. Hal ini disebabkan luasnya bidang ilmu sejarah tergantung dari sudut mana sejarah itu ditinjau akibatnya timbullah spesialisasi dari disiplin sejarah yang berupa cabang-cabang atau ranting-ranting yang lebih khusus. Definisi sejarah menurut Edward Hallett Carr , sejarah adalah suatu proses terus-menerus interaksi antara sejarawan dengan fakta-fakta yang ada ; suatu dialog tidak henti-hentinya antara masa sekarang dengan masa silam.

Menurut Robert V. Danieis dikatakan bahwa sejarah ialah kenangan pengalaman umat manusia.

Rumusan sejarah menurut Muhammad Yamin , sejarah ialah ilmu pengetahuan dengan umumnya yang berhubungan dengan ceritera bertarikh sebagai hasil penafsiran kejadian-kejadian dalam masyarakat manusia pada waktuyang telah lampau atau tanda-tanda yang lain.

Ditemukan bahwa menurut rumusan tersebut terdapat sembilan sendi sejarah sebagai ilmu yakni:

  1. Ilmu Pengetahuan. Yakni sejarah sebagai daya cipta manusia untuk mencapai hasrat ingin mengetahui serta perumusan sejumlah pendapat yang tersusun sekitar suatu masalah.
  2. Hasil Penyelidikan Penyelidikan adalah penyaluran hasrat ingin tau oleh manuasia dalam taraf keilmuan.
  3. Bahan Penyelidikan. Ilmu sejarah ialah hasil penelitian berdasarkan akal sehat yang kemudian bisa diungkapkan secara ilmiah dengan mempergunakan bahan-bahan penyelidikan sebagai benda kenyataan.
  4. Ceritera berisi pelaporan tentang kejadian dalam zaman yang lampau
  5. Yang diriwayatkan dalam pengertian sejarah ialah kejadian dalam masyarakat manusia di zaman yang lampau.
  6. Masyarakat Manusia. Menurut Ernst Bernheim”hanya manusialah yang menjadi obyek sejarah”
  7. Waktu yang lampau. Sejarah menyelidiki kejadian-kejadian dizaman atau waktu yang telah lampau.
  8. Tanggal dan Tarikh. Untuk memudahkan ingatan manusia dalam mempelajari sejarah perlu ditentukan batas awal dan akhirnya dengan kesatuan waktu sebagai petunjuk kejadian yaitu : tahun, bulan, tanggal/hari, jam dan detik, windu, dasawassa atau dekade , abad, milenium, ataupun usia relatif.
  9. Penafsiran atau Syarat Khusus. Cara menafsirkan itu dinamakan tafsiran atau interprestasi sejarah yang menentukan corak sejarah manakah atau apakah yang terbentuk sebagai hasil penyelidikan yang telah dilakukan. Cara penafsiran sejarah dari sudut pandangan ilmu tertentu atau ideologi tertentu itu merupakan syarat khusus dalam rangkaian sendi sejarah.

Sejarah sebagai Ilmu Sejarah merupakan ilmu yang mempelajari masa lampau manusia. Sebagai ilmu, sejarah merupakan ilmu pengetahuan ilmiah yang memiliki seperangkat metode dan teori yang dipergunakan untuk meneliti dan menganalisa serta menjelaskan kerangka masa lampau yang dipermasalahkan. Sejarawan harus menulis apa yang sesungguhnya terjadi sehingga sejarah akan menjadi objektif. Sejarah melihat manusia tertentu yang mempunyai tempat dan waktu tertentu serta terlibat dalam kejadian tertentu sejarah tidak hanya melihat manusia dalam gambaran dan angan-angan saja.

Menurut Kuntowijoyo, ciri-ciri atau karakteristik sejarah sebagai ilmu adalah sebagai berikut.

  1. Bersifat Empiris: Empiris berasal dari kata Yunani emperia artinya pengalaman, percobaan, penemuan, pengamatan yang dilakukan. Bersifat empiris sebab sejarah melakukan kajian pada peristiwa yang sungguh terjadi di masa lampau. Sejarah akan sangat tergantung pada pengalaman dan aktivitas nyata manusia yang direkam dalam dokumen. Untuk selanjutnya dokumen tersebut diteliti oleh para sejarawan untuk menemukan fakta yang akan diinterpretasi/ditafsirkan menjadi tulisan sejarah. Sejarah hanya meninggalkan jejak berupa dokumen.
  2. Memiliki Objek: Objek sejarah yaitu perubahan atau perkembangan aktivitas manusia dalam dimensi waktu (masa lampau). Waktu merupakan unsur penting dalam sejarah. Waktu dalam hal ini adalah waktu lampau sehingga asal mula maupun latar belakang menjadi pembahasan utama dalam kajian sejarah.
  3. Memiliki Teori: Teori merupakan pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa. Teori dalam sejarah berisi satu kumpulan tentang kaidah-kaidah pokok suatu ilmu. Teori tersebut diajarkan berdasarkan keperluan peradaban. Rekonstruksi sejarah yang dilakukan mengenal adanya teori yang berkaitan dengan sebab akibat, eksplanasi, objektivitas, dan subjektivitas.
  4. Memiliki Metode: Metode merupakan cara yang teratur dan terpikir baik untuk mencapai suatu maksud. Setiap ilmu tentu memiliki tujuan. Tujuan dalam ilmu sejarah adalah menjelaskan perkembangan atau perubahan kehidupan masyarakat. Metode dalam ilmu sejarah diperlukan untuk menjelaskan perkembangan atau perubahan secara benar. Dalam sejarah dikenal metode sejarah guna mencari kebenaran sejarah. Sehingga seorang sejarawan harus lebih berhati-hati dalam menarik kesimpulan jangan terlalu berani tetapi sewajarnya saja.
  5. Mempunyai Generalisasi: Studi dari suatu ilmu selalu ditarik suatu kesimpulan. Kesimpulan tersebut menjadi kesimpulan umum atau generalisasi. Jadi generalisasi merupakan sebuah kesimpulan umum dari pengamatan dan pemahaman penulis.

Ilmu pengetahuan sosial sifatnya selalu berubah dan mudah terjadi sebab kondisi setempat berubah, waktunya berubah, dan adanya pengaruh dari luar. Manusia tetap ingin tahu yang terjadi di masa lampau. Sejarah berbeda dengan ilmu sosial/ kemanusiaan yang lain seperti antropologi dan sosiologi sebab :

  1. Sejarah membicarakan manusia dari segi waktu yang artinya sejarah memperhatikan perkembangan, kesinambungan, pengulangan, dan perubahan.
  2. Dalam meneliti objeknya, sejarah berpegangan pada teorinya sendiri. Teori tersebut ditemukan dalam setiap tradisi sejarah. Teori sejarah diajarkan sesuai dengan keperluan peradaban masing-masing tradisi.
  3. Sejarah juga mempunyai generalisasi, dalam menarik kesimpulan umumnya dapat juga sebagai koreksi terhadap ilmu-ilmu lain.
  4. Sejarah juga mempunyai metode sendiri yang sifatnya terbuka dan hanya tunduk pada fakta.
  5. Sejarah membutuhkan riset, penulisan yang baik, penalaran yang teratur dan sistematika yang runtut, serta konsep yang jelas.

No Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *